Senin, 20 Oktober 2014

Undangan Lomba Mancing Ciliwung 26 Oktober 2014 Silaturahim Pemancing Pelindung Sungai

Sungai Ciliwung Jembatan Gadog Jl. Raya PUNCAK
Silaturahim Pemancing Pelindung Sungai 2013
(fotografer : Cecil Juliana Priscilla Dewi)


Ciliwung River Fishing Community CRFC Present
Minggu 26 Oktober 2014 Pukul 10:00 - selesai

Menuju #HariCiliwung1111 11 November 2014

Lomba Mancing Sebagai Sarana Pendataan dan Sosialisasi Pelestarian Ikan Lokal Asli Sungai Ciliwung.

Lokasi : Jalan Raya Puncak Gadog (Dam Gadog)
Sungai Ciliwung Jembatan Gadog

TUJUAN

1. Menumbuh kembangkan rasa kepedulian berbagai pihak untuk melahirkan ide-ide kreatif dan aksi nyata untuk sungai Ciliwung.
2. Memperkuat kerja sama dan sinergisitas semua pihak baik pemerintah, komunitas-komunitas Ciliwung, pemancing ataupun individu-individu dan masyarakat. Bahwa menjaga dan memelihara lingkungan sungai Ciliwung adalah tugas kita bersama.
3. Memberikan edukasi kepada pemancing dan masyarakat yang berada disepanjang aliran sungai Ciliwung, untuk menjaga kelestarian ikan asli Ciliwung.
4. Dengan menjaga ekosistem dan sampah sudah barang tentu akan menjaga kualitas air sungai ciliwung yang sebagian besar didaerah hulu di jawa barat untuk mandi dan cuci serta meningkatkan sumber kualitas air untuk PDAM
5. Meningkatkan semangat konservasi kepada seluruh lapisan masyarakat.
6. Dapat menggali seluruh potensi sungai ciliwung,seperti pariwisata , perikanan air tawar dan dijadikan laboratorium alam sebagai bahan penelitian.

Biaya Pendaftaran Peserta Mancing 
Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah/orang)

contact person :
Maruli Alpia : 085778390686
Ibnu Ramdoni 087825948584

Kelas dan Kriteria Lomba :
Kelas A
* Soro ( Terpanjang / Terbanyak)
* Senggal ( Terpanjang / Terbanyak )
* Arelot Sili ( Terpanjang / Terbanyak )
* Bogo ( Terpanjang / Terbanyak )
* Lendi ( Terpanjang / Terbanyak )

Kelas B
* Beunter dan Paray Terbanyak
* Jeler Terbanyak
* Kehkel Terbanyak

JACKPOT Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah)
Soro TERBERAT diatas 500 gram
TERCEPAT..!!!

***Display Pameran Ikan Lokal Asli Ciliwung 


Selamat Bertanding
Para Peserta
Lomba Mancing Sungai Ciliwung
(FORMASI)



KETENTUAN LOMBA MANCING SEBAGAI SARANA PENDATAAN DAN SOSIALISASI PELESTARIAN IKAN LOKAL CILIWUNG
- Peserta hanya dapat mengikuti 1 (satu) kelas.
- Teknik mancing yang diperbolehkan adalah teknik mancing tradisional (Non Casting/ Fly Fishing).
- Tidak boleh menggabungkan hasil tangkapan sesama peserta.
- Umpan bebas.
- Jakpot ikan SORO terberat di atas 500 gr (harus hidup). Dengan hadiah Rp. 500.000,-. Bagi pemancing yang tercepat melaporkan hasil tangkapan kepada panitia.
- Peserta harus sudah melaporkan hasil tangkapan lomba mancing pukul 16.00 WIB.
- Ikan yang dinilai hanya ikan hasil tangkapan lomba mancing dalam keadaan hidup kecuali ikan ARELOT/ BEROD/ SILI.
- Peserta DILARANG KERAS MEMBUANG SAMPAH DI SUNGAI, jika melanggar ketentuan ini akan di DISKUALIFIKASI (Dianggap Gugur).
- Pendaftaran dan registirasi paling lambat tanggal 26 Oktober 2014 di Lokasi.
- Lokasi perlombaan di hilir bawah mulai dari Leuwi Salak Gadog sampai dengan hulu diatasnya daerah Leuwi Osin (belakang GG House) / hanya untuk Kelas A.
- Lokasi perlombaan dari Leuwi Salak sampai dengan DAM Gadog untuk Kelas B.
- Penghitungan dan pengukuran ikan hasil lomba mancing untuk Kelas A di DAM Gadog.
- Penghitungan dan pengukuran ikan hasil lomba mancing untuk Kelas B dilaporkan langsung ke Panitia terdekat.
- Keputusan panitia lomba mancing tidak dapat diGANGGU GUGAT (mutlak).
hormat kami,
CRFC
Ciliwung River Fishing Community




Komitmen Bersama
Sosialisasi Pelarangan Penangkapan Ikan Dengan Cara Racun & Setrum


Minggu, 05 Oktober 2014

Siaran Pers Koalisi Sungai Jawa Desak Stop Betonisasi Sungai

"aksi didepan kantor Kementerian Pekerjaan Umum membongkar kemalasan mereka" ada teman dari Kali Cipinang dengan lantang teriak MENTERI PU PROJECT MINDED, " ada juga dari TKPSDA Ciliwung menyatakan emang respon Kementerian PU Lamban dalam menanggapi laporan masyarakat,"

Lembaga negara segede ini tidak melahirkan respect Dari Rakyatnya, Mereka disibukkan mengatur uang untuk proyek merusak sungai." Ini semua karena kita juga tidak keukeuh untuk mengawasi, mengontrol dan mencampuri urusan negara dengan sungguh-Sungguh, Orang-orang dalam kementerian PU bahwa tidak khatam dan secara paripurna memahami amanat undang-undang yang mengatur pekerjaan mereka. Di Ciliwung saja banyak kegagalan KERJA Menteri PU tak bisa dibayangkan bagaimana kerja-Kerja PU di jawa Timur (Brantas) atau di Luar jawa.

Untuk selamanya mari kita mencampuri urusan sungai karena Kementerian PU tidak memiliki keberfihakan pada pengelolaan sungai yang lestari.

Gunakan Pendekatan Ekosistem 
Pertegas Kewenangan dalam Pengelolaan Sungai Indonesia

1.     Mengarus utamakan Pendekatan ekosistem dalam pengelolaan Sungai. Menggunakan pendekatan ekosistem dalam pengelolaan sumber daya air yang meliputi konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. Memandang sungai yang terdiri dari Palung sungai, dataran banjir dan bantaran sungai sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling berinteraksi membentuk suatu keseimbangan alam

2.     Stop Betonisasi Sungai, Karena Sungai Bukan Selokan/Got. Menghentikan Betonisasi sungai sebagai satu-satunya cara untuk mengendalikan erosi sungai dan pengendalian banjir.  Pengendalian erosi sungai dengan membangun penguat tebing sungai berupa turap plengsengan dari pasangan batu semen harus mulai ditinggalkan dan diganti dengan rekayasa vegetasi ekohidrolika yang lebih ramah lingkungan. Pembangunan turap beton membutuhkan biaya mahal, masif, tidak alami, serta memperpendek aliran sungai karena biasanya disertai dengan pelurusan sungai, menurunkan faktor kekasaran dinding sungai dan meningkatkan kecepatan air, serta meningkatkan potensi erosi di wilayah hilir.
Sungai dengan dinding pasangan batu semen, beton atau urugan tanah memiliki retensi banjir dan erosi yang sangat rendah, serta memiliki keanekaragaman hayati yang lebih rendah dibandingkan kondisi alami. Pengendalian erosi tebing sungai dengan cara konvensional semakin memperparah kerusakan ekologi sungai, sehingga perlu penerapan rekayasa ekohidrolika dalam stabilisasi tebing sungai. Rekayasa hidrolika konvensional merubah total kondisi sungai alamiah menjadi kondisi sungai buatan seperti kanal atau selokan yang homogen dan tanpa vegetasi.
Pada sungai alamiah, koefisien hambatan aliran merupakan gabungan dari koefisien hambatan, bentuk dasar saluran, bentuk tebing, bentuk memanjang saluran dan struktur vegetasi.

3.     Evaluasi Peran  Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). BBWS Brantas dan BBWS Ciliwung Cisadane tidak maksimal memerankan fungsi
(a), pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sumber daya air pada wilayah sungai
(b), Pengelolaan sistem hidrologi,
(c), pengelolaan sumber daya air yang meliputi konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. Pertama, banyaknya terjadi alihfungsi sempadan sungai di Depok (Ciliwung) dan Kali Surabaya (Brantas), Kampung Ciwaluh Desa Wates (Cisadane) yang berstatus kawasan lindung diubah menjadi kawasan terbangun seperti apartemen, rumah dan Toko (ruko), Gudang, perumahan dan fungsi usaha lainnya.Salah satu penyebabnya adalah belum ditentukannya batas garis sempadan sungai.
Pelanggaran pemanfaatan sungai menunjukkan lemahnya peran koordinasi BBWS dengan Instansi lain. Kedua, Tingginya tingkat pencemaran sungai-sungai di Jawa akibat tidak adanya upaya penegakan hukum bagi pelaku pencemaran dan minimnya peran Pemerintah dalam pengendalian pembuangan sampah disungai dan pengolahan limbah domestik. Abainya BBWS Brantas terhadap peran fungsinya mendesak untuk dikembalikan peran Pengelolaan Sungai pada Provinsi.,

Condet, 29 September 2014    
KOALISI SUNGAI JAWA (CISADANE, CILIWUNG, BENGAWAN SOLO DAN KALI BRANTAS)
1. Abdul Kodir/081380748996 (komunitas Ciliwung Condet)
2. Rully Mustika Adya/ 083831106333(Komunitas Anti Lupa Pencemaran Kali Brantas)
3. Hari Yanto/08561235298 (komunitas Cisadane)
4. Sudirman Asun/081212125108 (CIliwung Institute)
5. Prigi Arisandi/08175033042 (Ecoton-Brantas)
--

Banjir Jakarta Hujan Itu Rahmat Bukan Musibah

Banjir Jakarta Hujan Itu Rahmat Bukan Musibah
Djoko Suryanto, ME



DJoko Suryanto, ME Saksi Fakta Sidang PTUN 24 September 2014 #TolakBetonisasiCiliwung 19 km Tb.Simatupang-Manggarai


Kepada Yth.
Pak Kodir di KCC
Di Condet

Assalammualaikum .Wr.Wb
Bersama ini saya kirimkam hasil perencanaan dari kementrian Kehutanan, yang pernah saya sampaikan di persidangan PTUN,
Hasil perencanaan ini yang saya anggap bisa memberikan perubahan POLA PIKIR yang selama ini dilakukan dalam pengendalian banjir selalu membuang air kelaut secepat mungkin. Pada hal mengatasi banjir yang selama ini dilakukan sangat bertentangan dengan maksud diturunkannya hujan oleh Allah SWT, yang telah saya jelaskan di buku saya dengan judul BANJIR JAKARTA ITU RAHMAT, BUKAN MUSIBAH.
Dalam buku RENCANA DETIL PENANGANAN BANJIR DI WILAYAH JABODETABEKJUR (1)
dari kehutanan tersebut poin yang penting adalah di rekomendasinya, dan buku pertama pada hal 57. tentang statmennya bahwa hujan selama 148 tahun itu relative sama dan bukan karena hujan yang menyebabkan banjir di jakarta.
Ini adalah halaman yang saya madsudkan di atas : 
Perubahan iklim yang ditandai dengan perubahan pola hujan dan jumlah intensitas hujan sering dianggap sebagai faktor yang menyebabkan kejadian banjir di kawasan Jabodetabek. Namun demikian, berdasarkan data curah hujan bulanan dan harian yang ada di kawasan ini tidak dapat menjelaskan bahwa terdapat perubahan pola dan intensitas hujan. Data curah hujan bulanan di stasiun Jakarta Obs (1866-2003) yang disajikan pada Gambar 3.21 menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan pola hujan di kawasan ini. Dengan kata lain, anggapan bahwa penyebab utama banjir wilayah Jabodetabek akibat perubahan iklim dan curah hujan adalah sama sekali tidak berdasar data dan fakta.
Pernyataan di atas membuktikan bahwa intensitas hujan selama 148 tahun adalah relative tetap yang berubah adalah DAS yang suda dirusak.

Kemudian hal berikut adalah dalam halaman rekomendasi di buku RENCANA DETIL PENANGANAN BANJIR JABODETABEKJUR (2) sbb :
BAB VI KESIMPULAN DAN KOMENDASI
Berdasarkan hasil analisis kawasan dan hasil analisis kajian dapat simpulkan sebagai berikut :
1. Kejadian banjir di Jakarta dan sekitarnya dipicu oleh perubahan penutupan lahan terutama pembangunan pemukiman baik di hulu, tengah maupun hilir yang tidak diimbangi dengan resapan,
2. Pola hujan dalam tempo 150 tahun terakhir menunjukkan banjir di Jabodetabek dapat dikendalikan karena penyebab utamanya bukan perubahan pola iklim dan curah hujan.
3. Penyebab utama banjir di Jakarta adalah karena sistem drainase di Jakarta yang kurang baik, pola penggunaan lahan yang tidak optimal, dan konsentrasi penduduk yang padat sehingga berdampak pada ditribusi pemukiman yang tidak diimbangi daerah resapan
4. DAS Ciliwung di bagian hulu dan tengah dapat dikendalikan dengan pendekatan vegetatif 61,1% dan sipil teknis 38,9% sementara di DAS Cisadane, vegetatif 84.56% dan sipil teknis 15,45% sedangkan di DAS Kali Bekasi pendekatan vegetatif 72,51% dan sipil teknis 27,49%, di DAS Pesangrahan pendekatan vegetatif 47,3% dan sipil teknis 52,72%, di DAS Kali Angke pendekatan vegetatif 54,68% dan 45,32% sipil teknis, di DAS Sunter 45,42% vegetatif dan 54,58% sipil teknis, sedangkan di DAS Cakung, Krukut dan Grogol hanya pendekatan teknis 100% yang berupa pembuatan sumur resapan.
5. Untuk mengendalikan banjir 25 tahun-an seperti tahun 2007 diperlukan jumlah sumur resapan optimal di DAS Ciliwung 24.447 unit, di DAS Cisadane 16.984 unit, di DAS Pesangrahan 21.598 unit, di DAS Krukut-Grogol 75.379 unit, di DAS Kali Angke 27.370 unit, di DAS Cakung 36.956 unit, di DAS Sunter 30.934 unit, dan di DAS Kali Bekasi 28.154 unit
6. Pola vegetatif dengan pola agroforestry dapat dilakukan di 6 DAS yaitu 6.505 Ha di DAS Cisadane, 1.470,7 Ha di DAS Angke, 801,7 Ha di DAS Pesangrahan, 3.461,4 Ha di DAS Ciliwung, 354,2 Ha di DAS sunter dan 5.014,9 Ha di DAS Kali Bekasi
7. Jumlah DAM penahan yang seharusnya dibuat di DAS Cisadane 376 unit, DAS Ciliwung 94 Unit dan DAS Kali Bekasi 155 unit semuanya berada di Kabupaten Bogor
8. Jumlah gully plug yang sesuai, dibangun di DAS Cisadane 622 unit, di DAS Ciliwung 151 unit dan di DAS Kali Bekasi 203 unit, DAS Angke 4 unit, DAS Pesanggrahan 1 unit.
9. Saat ini jumlah sumur resapan yang sudah dibangun di sekitar Jabodetabek 1.910 unit atau hanya 0,73 % dari yang seharusnya dibangun
10. Lokasi yang ideal untuk kegiatan konservasi dengan sistem gulud sejumlah 1.160 ha yang semuanya terletak di Kabupaten Bogor
11. Luas ideal untuk vegetasi tetap di DAS Cisadane 9.931 ha, DAS Angke 4.595 ha, DAS Pesangrahan 2.943 ha, DAS Ciliwung 5.806 ha, DAS sunter 3.594 ha dan DAS Kali Bekasi 7.725 ha.

Dari rekomendasi hasil perencanaan tersebut , tidak ada yang merekomendasikan untuk NORMALISASI SUNGAI, jadi ini dasar atau alasan untuk melakukan ,atau menanyakan
Kebijakan yang telah dilakukan oleh kementrian PU, yang selama ini selalu penaggulannya membuang air hujan kelaut padahal dari hasil kajian tersebut penyebab banjir karena terjadi perubahan penutupan lahan, bukan karena intensitas hujan.
Jadi kebijakan PU sangat bertentangan dengan hasil Kajian tersebut.
Dan akan berdampak pada permasalahan yang baru, karena dengan membuang air hujan yang turun akan mengakibatkan kekeringan di musim kemarau dan ini sudah kita rasakan saat ini karena daerah resapan sdh rusak dan waktu hujanpun makin cepat dibuang karena akibat dari normalisasi sungai tersebut.

Kesimpulannya , Pengendalian banjir yang selama ini dilakukan dengan cara normalisasi sungai adalah TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH BAHKAN MENIMBULKAN MASALAH BARU YAITU KEKERINGAN DIMUSIM KEMARAU.

SELAMAT BERJUANG INSYA ALLAH BERHASIL,KARENA MEMPERJUANGKAN KEBENARAN DEMI KELESTARIAN AIR TAWAR UNTUK KEPERLUAN KITA BERSAMA BERIKUT LINGKUNGANNYA. AMIIIN.

Wassalammualaikum Wr.Wb.
25 September 2014
( DJoko Suryanto, ME )