Senin, 18 Agustus 2014

69 Tahun Indonesia Merdeka, SDA Sungai Semakin Dirusak
Ciliwung RangerSenin, 18 Agustus 2014 0 komentar

Pengibaran Sang Saka Merah Putih di Sungai Ciliwung Kota Kembang Depok
17 Agustus 2014
dihadiri oleh Masyarakat, PEMDA Kota Depok dan Komunitas Ciliwung


Pers Release Komunitas Ciliwung
Kegiatan Jelajah Kemerdekaan Ciliwung 2014
dalam Rangka Memeringati Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia

Minggu, 17 Agustus 2014

Jiwa Jiwa Merdeka Generasi Pewaris Ciliiwung
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-69
oleh bocah bocah Pustaka Air Ciliwung bersama #ReshaDongeng 17 Agustus 2014.

Pinggir Ciliwung Kel. Ratu Jaya Kec. Cipayung Kota Depok.
Komunitas Ciliwung Depok.
Sejumlah pegiat sungai yang tergabung dalam Komunitas Ciliwung memeringati Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan upacara bendera di tengah aliran Sungai Ciliwung, Minggu (17/8). Bertempat di 2 titik peringatan 17 Agustus, titik pertama dekat jembatan Kota Kembang, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, sejumlah 100 orang dari berbagai kalangan mengikuti upacara dengan khidmat, lengkap dengan pengibaran bendera merah putih dan pembacaan teks proklamasi.  Lokasi tersebut juga menjadi titik awal susur Ciliwung dam titik kedua peringatan kemerdekaan sederhana dilakukan oleh Kak Resha Dongeng bersama anak anak Taman Baca Pustaka Air di Kelurahan Ratu Jaya Kecamatan Cipayung Kota Depok.
Azhar Malik, ketua pelaksana kegiatan Jelajah Kemerdekaraan Ciliwung 2014, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur terhadap kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia melalui jasa para pahlawan.  Momentum Hari Kemerdekaan sekaligus digunakan untuk mengartikulasikan kemerdekaraan bagi ekosistem sungai.  Komunitas Ciliwung Depok hari itu memfasilitasi pelaksanaan peringatan upacara bendera yang dilanjutkan dengan susur  Ciliwung dengan menggunakan  7 perahu karet.  Susur dengan finis di daerah Pondok Cina dilakukan untuk memantau perkembangan sempadan Ciliwung.  Hasil pengamatan akan disampaikan kepada dinas dan lembaga terkait di Kota Depok.
Kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat langsung apa yang terjadi di Ciliwung melalui susur sungai ini ” Kata Azhar, Siswa Pecinta Alam  PLASMA SMAN 4 Kota Depok yang memimpin kegiatan hari itu.
Dihubungi terpisah, Sudirman Asun, aktivis dan koordinator Ciliwung Institute, tak henti menyerukan kepada masyarakat luas untuk peduli terhadap kelestarian Ciliwung.  “Ciliwung itu wajah Ibu Kota Republik Indonesia.  Jika Ciliwung buruk itu menunjukan pengelolaan Negara yang buruk pula” kata dia.  Asun menambahkan bahwa meskipun bangsa Indonesia telah merdeka, tetapi tantangan mengelola sumberdaya alam masih sangat besar, termasuk sungaiSungai Ciliwung, lanjut dia, dalam kondisi kritis dan mengarah pada hilangnya biodiversitas di dalamnya. Penelitian LIPI tahun 2011 menunjukan bahwa 92% spesies ikan asli Ciliwung telah punah.  Ciliwung di Jakarta bahkan mengalami penyempitan akibat penyerobotan sempadan sungai untuk permukiman dan pendangkalan dari sedimentasi baik lumpur maupun sampah.
Pendapat senada di lontarkan pegiat Ciliwung Depok, Taufiq  D. S. , yang juga koordinator Komunitas Ciliwung Depok.  Berdasarkan pengamatan yang ia lakukan secara rutin dengan program piket Ciliwung menggunakan perahu karet, Ia yakin bahwa pemerintah selama ini absen dalam pengelolaan sungai.  Sempadan Ciliwung, khususnya di Kota Depok menghadapi ancaman penyerobotan dari pembangunan perumahan baik komplek maupun individu. 
“Ciliwung mengalami kehancuran, hak sempadannya di cabut.  Tapi Pemerintah tutup mata terhadap pelanggaran yang terjadi”. Kata Taufiq.  Apa yang disampaikan Taufiq bukan tanpa alasan.  Berulang kali pihaknya menyampaikan sejumlah hasil pengamatan lapangan kepada pemerintah Kota Depok.  Namun konversi sempadan masih terus terjadi.  Pelanggaran sempadan sungai nyata-nyata terjadi di depan mata. Namun sampai saat ini tidak ada sanksi yang diberikan.
Lihat saja hasil pengamatan Komunitas Ciliwung tahun 2013 yang menunjukan catatan terhadap pelanggaran terhadap sempadan Ciliwung.  Mulai dari Bojong Gede, Kabupaten Bogor sampai dengan Lenteng Agung, Jakarta, tercatat 215 titik gunungan sampah, 94 titik bangunan yang melanggar sempadan, dan 127 titik sumber limbah cair.
Belum lagi sejumlah catatan lainnya dari berbagai pihak.  Fakta kerusakan Sungai Ciliwung telah didokumentasikan dalam laporan jurnalistik Kompas (2009) dan laporan ekspedisi Badan Informasi Geospasial (2013).  Kedua laporan tersebut menggambarkan kondisi Sungai Ciliwung yang semakin memprihatinkan mulai dari daerah tangkapan air di Puncak sampai dengan muara di Jakarta.  Kondisi tersebut disebabkan oleh perubahan tutupan lahan di wilayah tangkapan air, sedimentasi akibat erosi, pencemaran, sampah, dan hilangnya fungsi vegetasi riparian di sempadan.  Serangkaian masalah tersebut menyebabkan daya tampung air sungai menurun.  Demikian pula dengan kualitas air Sungai Ciliwung yang semakin buruk.  Kementerian Lingkungan Hidup (2011) menyatakan bahwa  sebagian besar parameter Kriteria Mutu Air (KMA) Sungai Ciliwung tidak memenuhi kelas air yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.  Sementara itu, Hadiaty (2011) melaporkan menurunnya kekayaan spesies ikan asli akibat degradasi kualitas habitat Sungai Ciliwung.  Kondisi sungai yang semakin buruk dari waktu ke waktu membuat DAS Ciliwung ditetapkan sebagai salah satu DAS kritis di Indonesia. 
Rahmat Iskandar, warga Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok yang turut dalam kegiatan pengarungan mengaku prihatin sekaligus optimis terhadap kondisi Ciliwung di Kota Depok.  “ Meskipun terlihat banyak pelanggaran di sempadan Ciliwung, tapi masih ada tumbuhan yang tersisa cukup luas di sana-sini.  Masih ada harapan. Tumbuh-tumbuhan yang tersisa itu harus diselamatkan”.  Kata Rahmat.
Ciliwung adalah satu dari ribuan sungai yang mengalir di daratan Indonesia.  Aset alam yang menjadi bagian dari proses hidrologi tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan benar.  Memelihara dan memperbaiki sungai tampaknya perlu mengadopsi semangat juang pahlawan Indonesia dalam merebut kemerdekaaan.  Persatuan menjadi kunci keberhasilan pencapaian kemerdekaan.  Demikian pula untuk urusan sungai.  “Kunci kesuksesan pengelolaan sungai harus dilakukan bareng-bareng”. Kata Taufiq menutup acara.
            Musuh utama Ciliwung saat ini adalah konversi sempadan untuk perumahan dan bangunan lainnya.  Hal tersebut semakin memicu masuknya limbah dari rumah tangga, industri, dan sampah.  Pada kesempatan momentum HUT ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia, Komunitas Ciliwung Depok bersama Komunitas Ciliwung lainnya menyerukan agar:
(1)   Pemerintah pusat bersama dengan pemerintah daerah segera menetapkan Garis Sempadan Sungai yang menjadi amanat PP. 38 tahun 2011Sekedar mengingatkan Pemerintah, bahwa amanat tersebut harus dijalankan dan selesai pada tahun 2016 untuk seluruh sungai di Indonesia.
(2)   Stop mengeluarkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk seluruh bangunan yang akan didirikan di sempadan sungai.  Jika masih terdapat pelanggaran administrasi tersebut, maka dapat diadukan sebagai dugaan kasus korupsi.
(3)   Mengajak masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah ke Ciliwung dan mendukung inisiatif pemerintah daerah dan para pihak dalam penerapan pengelolaan limbah rumah tangga secara komunal.
(4)   Pegiat sungai untuk terus aktif mengajak sebanyak-banyaknya masyarakat untuk meramaikan dengan berbagai kegiatan positif di Ciliwung.
 
Sekalipun NKRI telah merdeka tapi kemerdekaan dari sisi lain tetap jadi dambaan masyarakat, salah satunya kemerdekaan sungai Ciliwung dari ancaman kerusakan dan sampah.
Upacara pengibaran bendera merah-putih dalam rangka peringatan HUT ke-69 RI yang dilakukan pegiat Ciliwung bersama masyarakat luas dilaksanakan di Cadas Ciliwung Kota Kembang, Depok paling tidak merefleksikan upaya merubah pola pikir masyarakat bahwa Ciliwung bukan tempat pembuangan sampah dan limbah serta tidak jadi tempat cari uang investor perumahan dan pabrik serta perorangan perusak bantaran atau sempadannya. 
Pada bagian lain, bertempat di Saung Pustaka Air, Ciliwung Ratujaya diadakan pula upacara bendera diikuti oleh anak-anak warga sekitar.
Sebagai Pembina Upacara di bantaran Ciliwung Kota Kembang, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Kania Prs; Pemimpin Upacara, Syarif Hidayatullah; Pengibar Bendera, Pecinta Alam SMUN 3 Depok; Pembaca Naskah-naskah, siswa SMK Nusantara, pengawal perahu Pengibar Bendera, tim Mapala UI; MC, Abang dan Mpok Depok/ tdes
(Komunitas Ciliwung Depok )
Referensi
Badan Informasi Geospasial. 2013.  Ekspedisi Geografi Indonesia; menentang banjir.  Badan Informasi Geografi; Bogor: 191 hlm.
Ciliwung Institute. 2013.  Laporan kegiatan jelajah keanekaragaman hayati Ciliwung 2013.  Komunitas Ciliwung; Jakarta: iii+26 hlm.
Hadiaty, R. K. 2011.  Diversitas dan hilangnya jenis-jenis ikan di Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane.  Berita Biologi 10(4): 491--504.
Kompas. 2009. Ekspedisi Ciliwung. Laporan Jurnalistik Kompas Mata Air, Air Mata. PT. Gramedia, Jakarta: xxviii+280 hlm.
Kementerian Lingkungan Hidup. 2011. Pemantauan kualitas air daerah aliran Sungai Ciliwung. Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan, Jakarta: vi+64 hlm.


Catatan Untuk Editor
  Ciliwung merupakan sungai utama yang mengalir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.  Sungai tersebut mengalir sejauh 117 km melewati wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta.  Di Provinsi Jawa Barat, Sungai Ciliwung mengalir melewati Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok. Aliran Sungai Ciliwung bermuara di Teluk Jakarta. Melalui Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008, Sungai Ciliwung ditetapkan sebagai salah satu dari DAS strategis lintas provinsi di Indonesia.    

 Untuk wawancara dan foto dapat menghubungi
·         Azhar Malik, ketua pelaksana kegiatan  Jelajah Kemerdekaan Ciliwung 2014,  no. Hp. 0821 1444 9564
·         Taufiq D. S. koordinator Komunitas Ciliwung Depok, no. Hp. 0812 9967 861
·         Sudirman Asun, koordinator Ciliwung Institute, no. Hp. 0812 1212 5108
·         Sekretariat : Perumahan Wartawan Purimulya Jl. Sensor No. 3 - Kalimulya, Depok 16471.  Email: jelajahciliwung@yahoo.com – Telp. 77822705

Sabtu, 26 Juli 2014

Hari Sungai Nasional 2014, Menunggu “Political Will” Pemerintah Pusat Dalam Penyelamatan Sungai Indonesia
Ciliwung RangerSabtu, 26 Juli 2014 0 komentar

Peringatan Hari Sungai Nasional 27 Juli 2014 bersama teman2 KWCC (Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane) , acara ngabuburit dan mancing di Anak Sungai Cisarua Cianteun DAS #Cisadane Leuwiliang Kabupaten Bogor. 
"harapan kepada pemerintahan yang baru lebih serius dalam penegakan hukum dan pengelolaan sungai sungai di Indonesia dengan konsep SDA yang berkelanjutan."

KWCC
Bogor 26 Juli 2014


Bogor, 26 Juli 2014. Pemerintah telah menetapkan tanggal 27 Juli sebagai Hari Sungai Nasional. Ciliwung Institute dan warga menunggu AKSI NYATA pemerintah.

Sehari sebelum hari sungai nasional Para Penggiat Pecinta Sungai dan Warga Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane memperingati hari sungai Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Juli 2014.
Para pengiat dan warga daerah aliran sungai (DAS) menuggu political will pemerintah dalam penyelamatan sungai di Indonesia, warga dan pengiat  sungai berharap pemerintahan terpilih lebih serius menangani permasalahan yang terjadi di sungai-sungai Indonesia, karena sungai-sungai di Indonesia umunya telah mengalami ketidakadilan, pembiaran serta abainya tugas pengelolaan  sungai oleh pemerintah Indonesia yang berdampak rusaknya ekologi sungai hingga kritis tercemar berat limbah industri, tambang maupun yang tercemar oleh limbah domestik. Salah satu contohnya sungai sub Das Cisadane “Cikaniki” sejak tahun 2010 sampai saat ini air sungai ini warnanya kadang coklat kental kadang hitam pekat.

Hari Yanto salah satu pendiri Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dan Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane (KWCC) yang kesehariannya tinggal di Daerah Aliran Sungai Ciliwung Cisadane mengungkapkan “kondisi sungai Ciliwung dan Cisadane semakin tahun semakin parah kondisinya dan memprihatinkan, seperti halnya sungai Cikaniki anak sungai Cisadane pada tahun 2008 sungai ini masih jernih serta ikannya pun masih banyak, namun sejak tahun 2010 sungai ini tercemar limbah dan ikan-ikan di Cikaniki hampir punah yang di akibatkan oleh para penambang tanpa ijin (PETI) di hulu sungai Cikaniki, yang membuang limbahnya secara langsung ke sungai . Tidak dipungkiri bahwasannya para penambang tanpa ijin di hulu Cikaniki adalah masyarakat yang menggantungkan sumber kehidupannya dari hasil tambang emas yang eksploitasi oleh PT Antam .tbk perusahaan BUMN plat merah negara ini. “Namun kalau permasalah yang terjadi di Cikaniki, tidak bisa lantas yang di salahkan hanya masyarakat yang melakukan PETI, harusnya pemerintah juga mensosialisasikan terkait apa dampak yang di sebabkan oleh para PETI sehingga mereka tidak mencemari sungai yang masih di manfaatkan oleh warga yang di hilr sebagai kebutuhan air sehari hari dan irigasi sawah. atau mungkin solusinya  pemerintah memfasilitasi PETI untuk membagun IPAL komunal yang menampung limbah, sehingga tidak mencemari sungai”, tambah Hari Yanto.

Sudirman Asun dari Ciliwung Institute menambahkan bukan hanya sungai Cikaniki yang tercemar, sungai Ciliwung pun tercemar oleh limbah tahu dan sampah domestik. Kondisi bantarannya pun  telah banyak diuruk para pengembang perumahan mulai dari Kabupaten Bogor hingga Kota Depok. Hutan bambu di bantaran Ciliwung juga terancam oleh para pengembang yang berniat membangun perumahan di daerah sempadan sungai dengan pertimbangan harga lahan yang murah dan pemandangan bagus ke aliran sungai (penawaran riverside/riverview).  Oleh sebab itu kami warga dan para pengiat pencinta sungai menunggu aksi nyata Presiden dan Wakil Presiden terpilih “Jokowi-Jusup Kalla” merealisasikan program-programnya dalam hal penyelamatan lingkungan, khusunya sungai jika sudah duduk di kursi Kepresidenan Republik Indonesia. Asun mengukapkan “Pada Juni 2013 lalu,  bersama dengan Komunitas Ciliwung, kami mengadakan penelitian Jelajah Taman Keanekaragaman Hayati Ciliwung. Kondisi Ciliwung sepanjang bantaran dipenuhi titik-titik gunung sampah. Tercatat 215 titik pembuangan sampah mulai dari Bojong Gede di Bogor hingga Simatupang, Jakarta. Penelitian tersebut juga mencatat 88 pelanggaran oleh pembangunan pemukiman di bantaran. Enam titik lainnya masih dalam proses pengurukan bantaran untuk kompleks perumahan baru. Tercatat pula sumber limbah rumah tangga dan industri sebanyak  127 titik.”

Ajie salah satu warga Daerah Aliran Sungai Cisadane, yang ikut serta menyambut Hari Sungai Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Juli 2014 mengingatkan bahwasannya “pemerintah jangan hanya bisa menetapkan hari Sungai saja, namun harus juga ikut serta merayakan hari tentang sungai ini serta mensosialisakan ke warga seperti kami di seluruh pelosok atau desa. Sehingga kejadianya tidak seperti kami yang hanya tahu tentang hari sungai dari para pengiat lingkungan” tuturnya.

Kontak Wawancara:
Hari Yanto, salah satu Pendiri Komunitas wilayah Ciliwung Cisadane.
Email: hari_kikuk_kikuk@yahoo.com Telpon: 08561235298
Sudirman Asun, Ketua Ciliwung Institute.
 Email: sudirmanasun@yahoo.com Telepon: 02171140277 atau 081212125108
Untuk permintaan foto, silakan menhubungi:
Sutisna Rey, Email sutisnarey@yahoo.com Telpon 085778431841

CATATAN EDITOR:
  • Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane merupakan Komunitas yang memiliki konsen dan keperdulian warga terhadap Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Sungai Ciliwung Cisadane Informasi terkait komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane bisa di lihat di http://Tjiliwoeng.blogspot.com dan facebook Cisadane institute.
  • Ciliwung Institute (CI) merupakan forum kerja yang digagas untuk mewadahi kegiatan komunitas yang bergerak dalam upaya penyelamatan Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Lingkup kegiatannya mulai dari Puncak Kab. Bogor, Kota Bogor, Bojonggede Kab.Bogor, Depok hingga Jakarta. Forum yang dibangun dari beragam isu ini mencoba mengangkat potensi Ciliwung yang dilihat dan dilakukan dari berbagai sudut pandang. Keberagaman ini merupakan kekuatan Ciliwung Institute untuk mengemas kampanye penyelamatan Ciliwung yang disuarakan menjadi sederhana dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Informasi lebih jauh tentang CI bisa diakses di http://ciliwunginstitute.blogspot.com/
  • Penetapan hari Sungai Nasional di tuangkan dalam Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2011 tentang Sungai dan di tetapkan pada tanggal 27 juli 2011 sebagaimana juga penetapan PP No 38 ini sekaligus sebagai penetapan hari Sungai Nasional oleh Persiden Republik Indonesia. 
  • Pemantauan Kualitas  Air 33 Propinsi Tahun 2011 oleh Pusarpedal -KLH
Dari 51 sungai yang dipantau di Indonesia 62, 74% masuk kategori tercemar Berat, 31, 37% tercemar Sedang-berat, 3,92% tercemar.

 Padahal Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Dari 5,5 ribu sungai utama panjang totalnya mencapai 94.573 km dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 1.512.466 km2.

Jumat, 25 Juli 2014

Cinta Pura-Pura #TolakBetonisasiCiliwung 19 km Tb.Simatupang-Manggarai
Ciliwung RangerJumat, 25 Juli 2014 0 komentar

#TolakBetonisasiCiliwung 19 km Tb. Simatupang-Manggarai.
Selamatkan yang tersisa, Green Belt Perlindungan Sempadan Ciliwung..!
#CiliwungBukanSelokan
#JanganBetonCiliwung
#HakAtasResapanAirTanah 


Ciliwung, malam ini aku sibuk sekali
Menyusun bait demi bait puisi tentangmu
Mungkin bukan karena aku peduli,
Namun mungkin karena aku terlalu ingin menang dalam lomba puisi

Ciliwung, malam ini aku mengkhianatimu
aku bercumbu dengan rasa bangga
aku menarikan untaian kata-kata pongah dalam bait puisiku
seolah aku mencintaimu
seolah aku peduli padamu

Ciliwung, malam ini aku merasa seperti para koruptor yang mencuri  namamu untuk mereka gadaikan pada para petinggi atas nama proyek peduli lingkungan.
Malam ini dalam remangnya malam, aku menguntai ribuan bait kata cinta yang palsu.
Malam ini, kupinjam namamu untuk menghias halaman demi halaman tulisanku
Aku bilang ini atas nama cintaku padamu,
Tapi aku bohong
Aku mengurai cerita tentang cintaku padamu hanya demi tropi yang kelak akan kupajang dengan bangga di etalase kemenangan

Aku lupa tentang apa yang telah kau ajarkan pada ku
Tentang rimbun pohon salak,
Tentang gemerisik daun bambu,
Tentang ikan baung yang mulai langka
Tentang hulu yang menawan
Dan hilir yang tertawan

Aku mengaku cinta, aku mengaku peduli
Namun tak jua  kuhiraukan tangis mu malam ini
Ku acuhkan isakmu yang melulu

Malam ini aku sungguh sibuk
Sibuk berpura-pura menjadi pemerhati lingkungan

Maafkan aku, Ciliwung..
Aku memang hanya seorang munafik yang sedang mabuk dunia

29 Mei 2014
Nur Faizah
Sekolah Alam Ciliwung

#TolakBetonisasiCiliwung 19 km
Tb.Simatupang-Manggarai

"Sungai bukan hanya milik manusia"
Selamatkan Habitat Senggawangan - Citra citras javanensis
#SaveBiodiversityCiliwung
#SAVEOURCILIWUNG 


Rabu, 18 Juni 2014

Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak
Ciliwung RangerRabu, 18 Juni 2014 0 komentar

PUNCAK Yang Tenggelam
dan Aksi Bersama Penyelamatannya
(Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak)
Bergerak dari Hulu
Kawasan puncak masih menjadi pilihan destinasi wisata yang sangat popular bagi warga Jakarta di akhir pekan dan hari libur. Kawasan ini juga popular setiap kali Jakarta tengah sibuk menghadapi banjir rutin yang datang pada puncaknya musim hujan di akhir dan awal tahun. Ada keniscayaan bahwa sebagian sumber utama banjir di Jakarta adalah karena datangnya “banjir kiriman” dari Bogor, utamanya dari Kawasan Puncak.

Oleh karenanya, kawasan ini sering dipersalahkan, sehingga sebagian mata pengamat, media dan pejabat menunjuk dan menyalahkan hadirnya bangunan vila-vila liar serta berbagai pelanggaran tata ruang kawasan ini yang tidak kunjung terselesaikan. Polemik Kawasan Puncak ini seakan jadi ritual tahunan berita yang popular . Namun faktanya, permasalahan lingkungan di Kawasan Puncak ini tidak kunjung padam tanpa solusi berarti dan memunculkan riuh berita musiman yang berulang tiap tahunnya.

Di penghujung tahun 2013 Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dengan didukung Pemerintah DKI Jakarta melakukan pembongkaran vila-vila liar di tanah-tanah Negara. Pembongkaran yang memang “sudah seharusnya” dilakukan ini menjadi berita hangat karena menjadi hal yang “tidak biasa” dan untuk pertama kalinya dilakukan dengan jumlah yang cukup masif. “Tidak biasa” karena sudah ada keniscayaan bahwa pemerintah tidak akan pernah memiliki kemampuan dan keberanian menaklukan para pemilik-pemilik vila yang banyak dimiliki para “elit” yang berpengaruh di negeri ini.

Pembongkaran vila di Kawasan Puncak tampaknya akan menjadi “persoalan yang menyisakan persoalan baru” jika tidak disertai aksi yang menyeluruh. Pendapatan masyarakat yang tinggal di beberapa Kampung di Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan , Kecamatan Cisarua hampir sepenuhnya tergantung dari kegiatan menunggu vila, jasa ojek bagi pengunjung vila, termasuk jual beli tanah-tanah negara yang melibatkan oknum-oknum yang memiliki kewenangan.

Solusi pelanggaran tata ruang dan penertiban bangunan liar harus bergerak kearah hulu atau akar masalah. Solusi ke hulu diantaranya adalah menertibkan praktek jual beli tanah-tanah negara.

Masyarakat setempat memerlukan informasi yang transparan dan jelas mengenai status tanah-tanah negara di kawasan ini. Adanya kejelasan batas-batas tanah berstatus kawasan hutan negara, tanah perkebunan serta peruntukan rinci menurut ketentuan tata ruang akan menjadi pijakan para pihak di dalam mengelola kawasan ini. 

Solusi ke hulu yang lain adalah menumbuhkan alternatif lapangan pekerjaan yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat lokal. Masyarakat lokal perlu didukung agar memiliki akses dan kapasitas dalam mengelola begitu besarnya potensi sektor wisata dan pertanian di kawasan ini.

Masyarakat yang berdaya dan bermartabat adalah masyarakat yang memiliki ketahanan ekonomi dan memiliki ketahanan ekonomi dan memiliki jati diri yang berakar pada budaya lokal. Saat ini Kawasan Puncak juga telah menjadi tempat wisata dan pusat persinggahan yang populer bagi warga pendatang dari negara negara kawasan “Timur Tengah” yang hendak bermigrasi ke negara lain. Hadirnya banyak pendatang ke Kawasan Puncak dan telah menumbuhkan perekonomian sektor wisata di kawasan ini perlu disertai daya dukung sosial yang kuat agar Kawasan Puncak tidak kehilangan indentitas diri dan karakter budayanya. Untuk itu agenda kebudayaan dan kegiatan keagamaan juga perlu mendapatkan perhatian tinggi.

Pada akhirnya, masyarakat lokal Kawasan Puncak yang memiliki ketahanan ekonomi dan budaya akan menjadi jangkar kelestarian lingkungan yang lebih permanen. Namun di tengah kesulitan baru akibat hilangnya sebagian sumber mata pencarian warganya pasca pembongkaran vila dan di tengah derasnya gempuran budaya “asing”, warga lokal “Kawasan Puncak selalu memiliki mimpi lingkungan Puncak yang bersih dan lestari. 

Tumbuhnya kesadaran lokal akan kelestarian lingkungan ini kami rasakan ketika kami selama beberapa bulan terakhir menyertai masyarakat berembug mendiskusikan masa depan kawasan ini. Namun tumbuhnya kesadaran lingkungan ini akan menjadi sia-sia tanpa dukungan para pihak yang memiliki kewenangan di luar lokalitas mereka. Aksi masyarakat beberapa kampung di kawasan ini yang tergerak secara rutin memulung sampah sampah domestik, wisatawan, hotel-restoran di hulu-hulu sungai Ciliwung membutuhkan dukungan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Pemerintah Daerah, pengelola kawasan perkebunan serta pengusaha pengusaha perhotelan dan restoran di kawasan ini dapat mendukung terbangunnya sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi pada skala wilayah. Budayawan dan pemuka agama dapat membantu menumbuhkan kesadaran warga dan umat beragama mewujudkan Sungai Ciliwung bersih. Aksi di hulu yang tidak kalah penting adalah kontribusi akademisi dan peneliti. Mereka bukan saja pencetus paradigma paradigma untuk menjawab tantangan baru namun juga berkontribusi menjelaskan dan menjernihkan persoalan kelabu menjadi terang benderang ke khalayak, bukan sebaliknya.

Menyadari itu semua, kami segelintir komunitas dan penggiat yang juga merasa sebagai bagian dari persoalan ini berikhtiar memulai “gerakan dari hulu” dengan membentuk “Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak”. Konsorsium kami diinisiasi oleh P4W IPB, Forest Watch Indonesia, Perkumpulan Telapak Badan Teritori Jawa Bagian Barat, Ciliwung Institute, Komunitas Ciliwung Puncak dan Komunitas Peduli Ciliwung. Kami tidak tahu berapa persisnya kontribusi Kawasan Puncak terhadap persoalan lingkungan Sungai Ciliwung, Kota Jakarta dan sekitarnya. Tapi kami yakin bahwa semua persoalan harus diselesaikan dengan bergerak dari hulu dimana Kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung adalah salah satu hulu persoalan. Di kawasan hulu sungai ini kami juga mencoba melihat dan bergerak di hulu persoalan. Kami akan berusaha bergerak secara proposional dalam tiga bentuk kegiatan, yakni riset, kampanye dan aksi nyata. Meski bergerak dari hulu, kami berkeyakinan bahwa pada akhirnya semua harus berujung pada aksi nyata.

Kami mengundang partisipasi dari seluruh pihak, kami terbuka untuk segala bentuk dukungan, meskipun hanya berupa ide. Kami percaya bahwa pada dasarnya kita semua adalah warga yang peduli dan kami tahu sudah banyak yang diperbuat banyak pihak dalam penyelamatan Kawasan Puncak. Kami hanya membuka satu pilihan lagi untuk mewujudkan kepedulian Anda dengan bergabung pada Gerakan Aksi Bersama ini.

Bogor, Mei 2014

Ernan Rustiadi
Dekan Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor