Senin, 20 Oktober 2014

Undangan Lomba Mancing Ciliwung 26 Oktober 2014 Silaturahim Pemancing Pelindung Sungai

Sungai Ciliwung Jembatan Gadog Jl. Raya PUNCAK
Silaturahim Pemancing Pelindung Sungai 2013
(fotografer : Cecil Juliana Priscilla Dewi)


Ciliwung River Fishing Community CRFC Present
Minggu 26 Oktober 2014 Pukul 10:00 - selesai

Menuju #HariCiliwung1111 11 November 2014

Lomba Mancing Sebagai Sarana Pendataan dan Sosialisasi Pelestarian Ikan Lokal Asli Sungai Ciliwung.

Lokasi : Jalan Raya Puncak Gadog (Dam Gadog)
Sungai Ciliwung Jembatan Gadog

TUJUAN

1. Menumbuh kembangkan rasa kepedulian berbagai pihak untuk melahirkan ide-ide kreatif dan aksi nyata untuk sungai Ciliwung.
2. Memperkuat kerja sama dan sinergisitas semua pihak baik pemerintah, komunitas-komunitas Ciliwung, pemancing ataupun individu-individu dan masyarakat. Bahwa menjaga dan memelihara lingkungan sungai Ciliwung adalah tugas kita bersama.
3. Memberikan edukasi kepada pemancing dan masyarakat yang berada disepanjang aliran sungai Ciliwung, untuk menjaga kelestarian ikan asli Ciliwung.
4. Dengan menjaga ekosistem dan sampah sudah barang tentu akan menjaga kualitas air sungai ciliwung yang sebagian besar didaerah hulu di jawa barat untuk mandi dan cuci serta meningkatkan sumber kualitas air untuk PDAM
5. Meningkatkan semangat konservasi kepada seluruh lapisan masyarakat.
6. Dapat menggali seluruh potensi sungai ciliwung,seperti pariwisata , perikanan air tawar dan dijadikan laboratorium alam sebagai bahan penelitian.

Biaya Pendaftaran Peserta Mancing 
Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah/orang)

contact person :
Maruli Alpia : 085778390686
Ibnu Ramdoni 087825948584

Kelas dan Kriteria Lomba :
Kelas A
* Soro ( Terpanjang / Terbanyak)
* Senggal ( Terpanjang / Terbanyak )
* Arelot Sili ( Terpanjang / Terbanyak )
* Bogo ( Terpanjang / Terbanyak )
* Lendi ( Terpanjang / Terbanyak )

Kelas B
* Beunter dan Paray Terbanyak
* Jeler Terbanyak
* Kehkel Terbanyak

JACKPOT Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah)
Soro TERBERAT diatas 500 gram
TERCEPAT..!!!

***Display Pameran Ikan Lokal Asli Ciliwung 


Selamat Bertanding
Para Peserta
Lomba Mancing Sungai Ciliwung
(FORMASI)



KETENTUAN LOMBA MANCING SEBAGAI SARANA PENDATAAN DAN SOSIALISASI PELESTARIAN IKAN LOKAL CILIWUNG
- Peserta hanya dapat mengikuti 1 (satu) kelas.
- Teknik mancing yang diperbolehkan adalah teknik mancing tradisional (Non Casting/ Fly Fishing).
- Tidak boleh menggabungkan hasil tangkapan sesama peserta.
- Umpan bebas.
- Jakpot ikan SORO terberat di atas 500 gr (harus hidup). Dengan hadiah Rp. 500.000,-. Bagi pemancing yang tercepat melaporkan hasil tangkapan kepada panitia.
- Peserta harus sudah melaporkan hasil tangkapan lomba mancing pukul 16.00 WIB.
- Ikan yang dinilai hanya ikan hasil tangkapan lomba mancing dalam keadaan hidup kecuali ikan ARELOT/ BEROD/ SILI.
- Peserta DILARANG KERAS MEMBUANG SAMPAH DI SUNGAI, jika melanggar ketentuan ini akan di DISKUALIFIKASI (Dianggap Gugur).
- Pendaftaran dan registirasi paling lambat tanggal 26 Oktober 2014 di Lokasi.
- Lokasi perlombaan di hilir bawah mulai dari Leuwi Salak Gadog sampai dengan hulu diatasnya daerah Leuwi Osin (belakang GG House) / hanya untuk Kelas A.
- Lokasi perlombaan dari Leuwi Salak sampai dengan DAM Gadog untuk Kelas B.
- Penghitungan dan pengukuran ikan hasil lomba mancing untuk Kelas A di DAM Gadog.
- Penghitungan dan pengukuran ikan hasil lomba mancing untuk Kelas B dilaporkan langsung ke Panitia terdekat.
- Keputusan panitia lomba mancing tidak dapat diGANGGU GUGAT (mutlak).
hormat kami,
CRFC
Ciliwung River Fishing Community




Komitmen Bersama
Sosialisasi Pelarangan Penangkapan Ikan Dengan Cara Racun & Setrum


Minggu, 05 Oktober 2014

Siaran Pers Koalisi Sungai Jawa Desak Stop Betonisasi Sungai

"aksi didepan kantor Kementerian Pekerjaan Umum membongkar kemalasan mereka" ada teman dari Kali Cipinang dengan lantang teriak MENTERI PU PROJECT MINDED, " ada juga dari TKPSDA Ciliwung menyatakan emang respon Kementerian PU Lamban dalam menanggapi laporan masyarakat,"

Lembaga negara segede ini tidak melahirkan respect Dari Rakyatnya, Mereka disibukkan mengatur uang untuk proyek merusak sungai." Ini semua karena kita juga tidak keukeuh untuk mengawasi, mengontrol dan mencampuri urusan negara dengan sungguh-Sungguh, Orang-orang dalam kementerian PU bahwa tidak khatam dan secara paripurna memahami amanat undang-undang yang mengatur pekerjaan mereka. Di Ciliwung saja banyak kegagalan KERJA Menteri PU tak bisa dibayangkan bagaimana kerja-Kerja PU di jawa Timur (Brantas) atau di Luar jawa.

Untuk selamanya mari kita mencampuri urusan sungai karena Kementerian PU tidak memiliki keberfihakan pada pengelolaan sungai yang lestari.

Gunakan Pendekatan Ekosistem 
Pertegas Kewenangan dalam Pengelolaan Sungai Indonesia

1.     Mengarus utamakan Pendekatan ekosistem dalam pengelolaan Sungai. Menggunakan pendekatan ekosistem dalam pengelolaan sumber daya air yang meliputi konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. Memandang sungai yang terdiri dari Palung sungai, dataran banjir dan bantaran sungai sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling berinteraksi membentuk suatu keseimbangan alam

2.     Stop Betonisasi Sungai, Karena Sungai Bukan Selokan/Got. Menghentikan Betonisasi sungai sebagai satu-satunya cara untuk mengendalikan erosi sungai dan pengendalian banjir.  Pengendalian erosi sungai dengan membangun penguat tebing sungai berupa turap plengsengan dari pasangan batu semen harus mulai ditinggalkan dan diganti dengan rekayasa vegetasi ekohidrolika yang lebih ramah lingkungan. Pembangunan turap beton membutuhkan biaya mahal, masif, tidak alami, serta memperpendek aliran sungai karena biasanya disertai dengan pelurusan sungai, menurunkan faktor kekasaran dinding sungai dan meningkatkan kecepatan air, serta meningkatkan potensi erosi di wilayah hilir.
Sungai dengan dinding pasangan batu semen, beton atau urugan tanah memiliki retensi banjir dan erosi yang sangat rendah, serta memiliki keanekaragaman hayati yang lebih rendah dibandingkan kondisi alami. Pengendalian erosi tebing sungai dengan cara konvensional semakin memperparah kerusakan ekologi sungai, sehingga perlu penerapan rekayasa ekohidrolika dalam stabilisasi tebing sungai. Rekayasa hidrolika konvensional merubah total kondisi sungai alamiah menjadi kondisi sungai buatan seperti kanal atau selokan yang homogen dan tanpa vegetasi.
Pada sungai alamiah, koefisien hambatan aliran merupakan gabungan dari koefisien hambatan, bentuk dasar saluran, bentuk tebing, bentuk memanjang saluran dan struktur vegetasi.

3.     Evaluasi Peran  Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). BBWS Brantas dan BBWS Ciliwung Cisadane tidak maksimal memerankan fungsi
(a), pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sumber daya air pada wilayah sungai
(b), Pengelolaan sistem hidrologi,
(c), pengelolaan sumber daya air yang meliputi konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai. Pertama, banyaknya terjadi alihfungsi sempadan sungai di Depok (Ciliwung) dan Kali Surabaya (Brantas), Kampung Ciwaluh Desa Wates (Cisadane) yang berstatus kawasan lindung diubah menjadi kawasan terbangun seperti apartemen, rumah dan Toko (ruko), Gudang, perumahan dan fungsi usaha lainnya.Salah satu penyebabnya adalah belum ditentukannya batas garis sempadan sungai.
Pelanggaran pemanfaatan sungai menunjukkan lemahnya peran koordinasi BBWS dengan Instansi lain. Kedua, Tingginya tingkat pencemaran sungai-sungai di Jawa akibat tidak adanya upaya penegakan hukum bagi pelaku pencemaran dan minimnya peran Pemerintah dalam pengendalian pembuangan sampah disungai dan pengolahan limbah domestik. Abainya BBWS Brantas terhadap peran fungsinya mendesak untuk dikembalikan peran Pengelolaan Sungai pada Provinsi.,

Condet, 29 September 2014    
KOALISI SUNGAI JAWA (CISADANE, CILIWUNG, BENGAWAN SOLO DAN KALI BRANTAS)
1. Abdul Kodir/081380748996 (komunitas Ciliwung Condet)
2. Rully Mustika Adya/ 083831106333(Komunitas Anti Lupa Pencemaran Kali Brantas)
3. Hari Yanto/08561235298 (komunitas Cisadane)
4. Sudirman Asun/081212125108 (CIliwung Institute)
5. Prigi Arisandi/08175033042 (Ecoton-Brantas)
--

Banjir Jakarta Hujan Itu Rahmat Bukan Musibah

Banjir Jakarta Hujan Itu Rahmat Bukan Musibah
Djoko Suryanto, ME



DJoko Suryanto, ME Saksi Fakta Sidang PTUN 24 September 2014 #TolakBetonisasiCiliwung 19 km Tb.Simatupang-Manggarai


Kepada Yth.
Pak Kodir di KCC
Di Condet

Assalammualaikum .Wr.Wb
Bersama ini saya kirimkam hasil perencanaan dari kementrian Kehutanan, yang pernah saya sampaikan di persidangan PTUN,
Hasil perencanaan ini yang saya anggap bisa memberikan perubahan POLA PIKIR yang selama ini dilakukan dalam pengendalian banjir selalu membuang air kelaut secepat mungkin. Pada hal mengatasi banjir yang selama ini dilakukan sangat bertentangan dengan maksud diturunkannya hujan oleh Allah SWT, yang telah saya jelaskan di buku saya dengan judul BANJIR JAKARTA ITU RAHMAT, BUKAN MUSIBAH.
Dalam buku RENCANA DETIL PENANGANAN BANJIR DI WILAYAH JABODETABEKJUR (1)
dari kehutanan tersebut poin yang penting adalah di rekomendasinya, dan buku pertama pada hal 57. tentang statmennya bahwa hujan selama 148 tahun itu relative sama dan bukan karena hujan yang menyebabkan banjir di jakarta.
Ini adalah halaman yang saya madsudkan di atas : 
Perubahan iklim yang ditandai dengan perubahan pola hujan dan jumlah intensitas hujan sering dianggap sebagai faktor yang menyebabkan kejadian banjir di kawasan Jabodetabek. Namun demikian, berdasarkan data curah hujan bulanan dan harian yang ada di kawasan ini tidak dapat menjelaskan bahwa terdapat perubahan pola dan intensitas hujan. Data curah hujan bulanan di stasiun Jakarta Obs (1866-2003) yang disajikan pada Gambar 3.21 menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan pola hujan di kawasan ini. Dengan kata lain, anggapan bahwa penyebab utama banjir wilayah Jabodetabek akibat perubahan iklim dan curah hujan adalah sama sekali tidak berdasar data dan fakta.
Pernyataan di atas membuktikan bahwa intensitas hujan selama 148 tahun adalah relative tetap yang berubah adalah DAS yang suda dirusak.

Kemudian hal berikut adalah dalam halaman rekomendasi di buku RENCANA DETIL PENANGANAN BANJIR JABODETABEKJUR (2) sbb :
BAB VI KESIMPULAN DAN KOMENDASI
Berdasarkan hasil analisis kawasan dan hasil analisis kajian dapat simpulkan sebagai berikut :
1. Kejadian banjir di Jakarta dan sekitarnya dipicu oleh perubahan penutupan lahan terutama pembangunan pemukiman baik di hulu, tengah maupun hilir yang tidak diimbangi dengan resapan,
2. Pola hujan dalam tempo 150 tahun terakhir menunjukkan banjir di Jabodetabek dapat dikendalikan karena penyebab utamanya bukan perubahan pola iklim dan curah hujan.
3. Penyebab utama banjir di Jakarta adalah karena sistem drainase di Jakarta yang kurang baik, pola penggunaan lahan yang tidak optimal, dan konsentrasi penduduk yang padat sehingga berdampak pada ditribusi pemukiman yang tidak diimbangi daerah resapan
4. DAS Ciliwung di bagian hulu dan tengah dapat dikendalikan dengan pendekatan vegetatif 61,1% dan sipil teknis 38,9% sementara di DAS Cisadane, vegetatif 84.56% dan sipil teknis 15,45% sedangkan di DAS Kali Bekasi pendekatan vegetatif 72,51% dan sipil teknis 27,49%, di DAS Pesangrahan pendekatan vegetatif 47,3% dan sipil teknis 52,72%, di DAS Kali Angke pendekatan vegetatif 54,68% dan 45,32% sipil teknis, di DAS Sunter 45,42% vegetatif dan 54,58% sipil teknis, sedangkan di DAS Cakung, Krukut dan Grogol hanya pendekatan teknis 100% yang berupa pembuatan sumur resapan.
5. Untuk mengendalikan banjir 25 tahun-an seperti tahun 2007 diperlukan jumlah sumur resapan optimal di DAS Ciliwung 24.447 unit, di DAS Cisadane 16.984 unit, di DAS Pesangrahan 21.598 unit, di DAS Krukut-Grogol 75.379 unit, di DAS Kali Angke 27.370 unit, di DAS Cakung 36.956 unit, di DAS Sunter 30.934 unit, dan di DAS Kali Bekasi 28.154 unit
6. Pola vegetatif dengan pola agroforestry dapat dilakukan di 6 DAS yaitu 6.505 Ha di DAS Cisadane, 1.470,7 Ha di DAS Angke, 801,7 Ha di DAS Pesangrahan, 3.461,4 Ha di DAS Ciliwung, 354,2 Ha di DAS sunter dan 5.014,9 Ha di DAS Kali Bekasi
7. Jumlah DAM penahan yang seharusnya dibuat di DAS Cisadane 376 unit, DAS Ciliwung 94 Unit dan DAS Kali Bekasi 155 unit semuanya berada di Kabupaten Bogor
8. Jumlah gully plug yang sesuai, dibangun di DAS Cisadane 622 unit, di DAS Ciliwung 151 unit dan di DAS Kali Bekasi 203 unit, DAS Angke 4 unit, DAS Pesanggrahan 1 unit.
9. Saat ini jumlah sumur resapan yang sudah dibangun di sekitar Jabodetabek 1.910 unit atau hanya 0,73 % dari yang seharusnya dibangun
10. Lokasi yang ideal untuk kegiatan konservasi dengan sistem gulud sejumlah 1.160 ha yang semuanya terletak di Kabupaten Bogor
11. Luas ideal untuk vegetasi tetap di DAS Cisadane 9.931 ha, DAS Angke 4.595 ha, DAS Pesangrahan 2.943 ha, DAS Ciliwung 5.806 ha, DAS sunter 3.594 ha dan DAS Kali Bekasi 7.725 ha.

Dari rekomendasi hasil perencanaan tersebut , tidak ada yang merekomendasikan untuk NORMALISASI SUNGAI, jadi ini dasar atau alasan untuk melakukan ,atau menanyakan
Kebijakan yang telah dilakukan oleh kementrian PU, yang selama ini selalu penaggulannya membuang air hujan kelaut padahal dari hasil kajian tersebut penyebab banjir karena terjadi perubahan penutupan lahan, bukan karena intensitas hujan.
Jadi kebijakan PU sangat bertentangan dengan hasil Kajian tersebut.
Dan akan berdampak pada permasalahan yang baru, karena dengan membuang air hujan yang turun akan mengakibatkan kekeringan di musim kemarau dan ini sudah kita rasakan saat ini karena daerah resapan sdh rusak dan waktu hujanpun makin cepat dibuang karena akibat dari normalisasi sungai tersebut.

Kesimpulannya , Pengendalian banjir yang selama ini dilakukan dengan cara normalisasi sungai adalah TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH BAHKAN MENIMBULKAN MASALAH BARU YAITU KEKERINGAN DIMUSIM KEMARAU.

SELAMAT BERJUANG INSYA ALLAH BERHASIL,KARENA MEMPERJUANGKAN KEBENARAN DEMI KELESTARIAN AIR TAWAR UNTUK KEPERLUAN KITA BERSAMA BERIKUT LINGKUNGANNYA. AMIIIN.

Wassalammualaikum Wr.Wb.
25 September 2014
( DJoko Suryanto, ME )




Kamis, 25 September 2014

Saya dan Sejuta Pesona Ciliwung

Saya dan Shabia Nasheera di gendongan bersama suami yang membawa tas merah berisi perlengkapan bayi dengan keluarga besar Sekolah Alam di lokasi pinggir Sungai Ciliwung yang rindang sejuk di Komunitas Ciliwung Condet

2 tahun yang lalu, saya berkenalan dengan Sungai Ciliwung, awalnya hanya sekedar iseng ikut ajakan teman menjadi volunteer untuk pepustakaan Ciliwung yang bernaung dibawah Komunitas Ciliwung Condet. Niat awalnya saya hanya sekedar untuk membunuh waktu luang libur kuliah yang membosankan, kebetulan basecamp komunitas tersebut tidak jauh dari tempat saya tinggal.

            Jujur saja, walaupun saya asli warga Jakarta, saya tak pernah tahu bagaimana wajah Sungai Ciliwung yang sebenarnya. Yang saya tahu, setiap kali banjir 5 tahunan datang, maka sungai ini menjadi bencana besar bagi Jakarta. Yang saya tahu, sungai ini begitu banyak dipinjam namanya oleh para calon gubernur dan calon petinggi negara yang menjanjikan "Jakarta yang tak banjir lagi". Yang saya tahu, sungai ini ramai diperbincangkan dalam isu-isu normalisasi, membosankan. Tapi, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki saya di Komunitas Ciliwung, saya langsung jatuh hati. Saya jatuh hati pada rimbunnya pohon dan gemerisik daun salak yang tertiup angin. Ambooi, rasanya saat itu saya langsung ingin bawa tikar dan berpiknik disana.

            Kata orang, Ciliwung itu ada peletnya, makanya sekali main di Ciliwung, di jamin pasti akan balik lagi. Mungkin itu yang terjadi kepada saya. Semenjak hari itu saya repot sekali bolak-balik ke Komunitas Ciliwung hanya sekedar untuk menikmati sore sambil berbincang hangat seputar isu-isu lingkungan hidup ditemani secangkir kopi yang disuguhkan gratis disana.
            Semakin  sering saya berkunjung, semakin saya tahu keadaan Ciliwung yang sebenarnya. Miris, sungguh miris. Di kota modern sekelas Jakarta, ternyata masih ada yang terbelakang. Ya, sungai Ciliwung tertinggal di belakang segala kemajuan Kota Jakarta. Akhirnya, berangkat dari rasa sedih dan miris karena begitu banyak orang yang rugi karena tidak mengenal sungai ini, saya dan beberapa teman membentuk tim dan membuat tempat bermain dan belajar di tepi Sungai Ciliwung yang kami beri nama “sekolah alam ciliwung”. Di sana kami mengajak anak-anak sekitar untuk bermain dan mengenal sungai Ciliwung dengan cara yang menyenangkan. Kami mengajari mereka dengan dongeng, dengan menceritakan sejarah sungai, membuat drama tentang asal-usul sungai.

Awalnya hanya 10 orang saja yang datang dan mau mengenal sungai Ciliwung, tapi kami tak putus asa. Setiap minggu ternyata semakin banyak anak-anak yang tertarik untuk ikut bergabung bersama kami hingga akhirnya murid sekolah alam Ciliwung mencapai 150 anak. Harapan kami, anak-anak ini nantinya akan menjadi generasi yang peduli, generasi yang mampu hidup bersinergi dengan alam. Memang yang kami lakukan hanyalah hal yang sangat kecil bagi Ciliwung kami tercinta. Namun, bukankah manusia pun hanya terbuat dari sebuah sel kecil yang tak kasat mata?
Ciliwung bagi saya bukan hanya sekedar guru yang memberi limpahan ilmu, Ciliwung juga sang dewi cinta. Ciliwung memberikan saya seorang lelaki sempurna yang kini menjadi suami saya. Saya bertemu dengannya dalam acara ulang tahun Jakarta yang diselenggarakan oleh Komunitas Ciliwung Condet. Perkenalan yang sederhana ditemani segelas bir pletok dan kue bugis khas betawi. Di tepi sungai Ciliwung yang mengerikan bagi banyak orang, saya menemukan cinta yang sejati. Pertemuan demi pertemuan selalu kami lakukan di tepi sungai ini, bukan hanya di condet, kami pun bertemu di Ciliwung Bojonggede, Ciliwung Depok, bahkan hingga Ciliwung Bogor. Kami melihat berbagai bentuk wajah dari Ciliwung, yang muram dan lesu serta telah renta di hilir, serta wajah yang ceria dengan deras suara air dihiasi semilir angin sepoi yang sejuk di hulu nya. Sungguh kontras dan amat berbeda, tapi kami menikmati keduanya.

6 bulan setelah pertemuan sederhana di tepi Ciliwung, saya dan lelaki yang diberikan Ciliwung untuk saya-pun menikah. Hari-hari pernikahan kami pun selalu diisi dengan cerita-cerita tentang sungai ini. Mungkin Ciliwung memang telah menjerat saya dengan pesonanya, bahkan setelah menikah saya justru semakin dekat dengan Ciliwung, karena rumah yang saya dan suami tempati kini berada di tepi sungai Ciliwung. Oh, tentu saja berada diluar garis sempadan sungai yang telah di tentukan.
Setelah menikah saya melihat lagi wajah Ciliwung yang lain, wajah penuh amarah saat musim hujan tiba. Walaupun rumah saya diluar garis sempadan sungai, tentu saya tetap mengalami banjir 5 tahunan. Banjir pertama yang datang hanya berselang 2 hari setelah pernikahan kami, Ciliwung dengan baik hati memberi kami hadiah berupa limpahan air yang datang berkunjung ke rumah kami. Sungguh saya tak pernah merasa keberatan ataupun kesal dengan sungai ini, saya menikmati setiap detik menanti air itu datang dan masuk ke dalam rumah, karena sungguh seandainya kalian tahu, banjir membawa banyak keberkahan. Senang sekali rasanya melihat warga saling tolong menolong membantu mengungsikan barang-barang. Mungkin kalian sesekali harus mencoba rasanya kebanjiran, memang letih dan lelah, namun banyak pelajaran yang amat berharga yang bisa kita ambil.

Episode berikutnya saya jalani bersama Ciliwung kala saya mengandung anak pertama saya. Sebegitu lekatnya pesona Ciliwung sampai saat hamil pun saya ngidam mandi dan berenang di sungai Ciliwung. Apa daya, walaupun rumah saya hanya sepelemparan batu dengan tepi Sungai Ciliwung, tentu saya tidak bisa mandi di sungai Ciliwung di Condet ini karena airnya sudah begitu keruh dan tercemar. Walaupun saya cinta dengan Ciliwung, saya pasti berpikir dua kali kalau untuk menceburkan diri saya di sungai Ciliwung belakang rumah saya. Saya bukan sungkan dengan Ciliwungnya, namun saya takut ketika saya main air disana, jempol kaki saya dimakan oleh ikan sapu-sapu. Akhirnya karena begitu inginnya saya main di Ciliwung, suami saya dengan baik hati bersedia mengantar saya ke sungai Ciliwung bagian hulu, yang terdekat yaitu di Bojonggede. 

Pagi-pagi sekali dengan membawa perut yang kian besar kami mantap sekali menumpang kereta commuterline. Sesampai disana saya harus menelan kekecewaan karena air sedang tinggi dan saya tidak diperkenankan untuk turun ke sungai karena bisa berbahaya. Saya dan suami pun harus menunggu air surut kembali sekitar 4 jam, saat menunggu sungguh tidak terasa membosankan karena kami menunggu di bawah rindangnya pepohonan lokal dan duduk di dalam saung sambil memandang jajaran bibit pohon dalam ratusan polybag. Oh ya, kalian harus tahu kalau Komunitas Ciliwung Bojonggede punya program nursery, khususnya dalam bidang pembibitan dan pemberdayaan pohon-pohon lokal. Tempatnya sangat asri dan rimbun, cocok sekali untuk mata-mata yang lelah memandang riuhnya perkotaan. Tak terasa sore pun datang menjelang, kami pulang dengan memikul lelah yang amat sangat, kaki saya mulai bengkak dan punggung pun mulai letih dibawa berjalan, tapi senyum tetap terkembang di wajah kami. Sungguh betapapun lelahnya, kami sangat menikmati waktu bercengkrama dengan sungai. Saya jadi berandai-andai, apa mungkin nanti anak saya masih bisa menikmati sejuknya sungai Ciliwung? Ah, sungguh indah bila saja sungai Ciliwung di belakang rumah saya juga masih dapat kami nikmati airnya.

Ciliwung tak henti memberi saya kejutan. Banjir kedua datang menyapa kala usia kandungan memasuki 8 bulan. Kata siapa banjir datangnya 5 tahun sekali, saya baru 2 tahun menikah dan sudah 2 kali kedatangan banjir. Tahun 2014 ini malah tak tanggung-tanggung, 7 kali banjir merendam rumah kami tercinta. Saya tetap menikmati datangnya air, namun perut buncit saya mulai menunjukkan keberatan. Kaki mulai sering terasa kram dan punggung pun tak lagi kuat diajak bekerja membersihkan sisa-sisa lumpur kala banjir mulai surut. Para tetangga sering meledek bahwa anak saya nanti akan jadi anak kali, akan cepat bisa berenang, dan anak yang tidak bisa diam seperti aliran sungai Ciliwung yang tak pernah diam. Bahkan beberapa mulai memberi nama-nama untuk anak saya, kalau perempuan disuruh beri nama Siti Banjirwati, kan kalau laki-laki dinamai Muhammad Ciliwung. Saya hanya tersenyum menanggapi. syukurlah bayi saya tetap sehat dan aman di dalam perut saya hingga banjir pun berlalu.

Bayi saya lahir setelah semua banjir telah usai, di tanggal 6 maret 2014. Kami menamainya Shabia Nasheera yang berarti anak gadis yang senang menolong. Harapan kami, gadis kami ini kelak akan jadi gadis yang senang menolong seperti namanya. Para tetangga yang membesuk datang dengan ledekan kalau anak saya tentu harus senang menolong mereka kala banjir datang kembali. Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum mengamini.
Kini isu-isu penggusuran mulai membayangi para tetangga di lingkungan kami. Kami hanya berharap kalau penggusuran dengan membawa nama proyek emas normalisasi sungai tidak hanya akan berakhir dengan kasus korupsi dan penggelembungan dana. Kami tak henti berharap sungai Ciliwung akan kembali menjadi primadona, seperti masa keemasannya dulu. kami tak henti berandai-andai agar kami bisa kembali menikmati sungai Ciliwung yang bersih, dan asri. Siapa tahu kelak Ciliwung akan menjadi destinasi wisata sungai? Siapa tahu kelak Ciliwung akan berubah menjadi Venice nya Indonesia.

            Ciliwung bagi saya bukan hanya sekedar air yang mengalir dari hulu ke hilirnya, namun Ciliwung adalah guru yang mengajarkan tentang kehidupan, tentang sejarah, dan tentang masa depan. Ciliwung bukan barang warisan dari generasi kita untuk generasi selanjutnya, Ciliwung merupakan titipan generasi selanjutnya untuk kita rawat, kita jaga, dan kita cintai. Betapapun sakitnya Ciliwung, ia masih saja memberi kasih pada kita dengan airnya. Ia masih saja memberi ilmu dengan tulus dengan alirannya.
Mengalir bersama Ciliwung bukan hanya sekedar mengalir, tapi belajar, dan hidup bersamanya, bersama Ciliwung kita...
Nur Faizah - Sekolah Alam Ciliwung )



Foto Kegiatan Ciliwung

Konsorsium Penyelamatan Puncak

Arsip Artikel

Cari Blog Ini

Memuat...

 

© 2013 Ciliwung Institute. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top