Kamis, 25 September 2014

Saya dan Sejuta Pesona Ciliwung

Saya dan Shabia Nasheera di gendongan bersama suami yang membawa tas merah berisi perlengkapan bayi dengan keluarga besar Sekolah Alam di lokasi pinggir Sungai Ciliwung yang rindang sejuk di Komunitas Ciliwung Condet

2 tahun yang lalu, saya berkenalan dengan Sungai Ciliwung, awalnya hanya sekedar iseng ikut ajakan teman menjadi volunteer untuk pepustakaan Ciliwung yang bernaung dibawah Komunitas Ciliwung Condet. Niat awalnya saya hanya sekedar untuk membunuh waktu luang libur kuliah yang membosankan, kebetulan basecamp komunitas tersebut tidak jauh dari tempat saya tinggal.

            Jujur saja, walaupun saya asli warga Jakarta, saya tak pernah tahu bagaimana wajah Sungai Ciliwung yang sebenarnya. Yang saya tahu, setiap kali banjir 5 tahunan datang, maka sungai ini menjadi bencana besar bagi Jakarta. Yang saya tahu, sungai ini begitu banyak dipinjam namanya oleh para calon gubernur dan calon petinggi negara yang menjanjikan "Jakarta yang tak banjir lagi". Yang saya tahu, sungai ini ramai diperbincangkan dalam isu-isu normalisasi, membosankan. Tapi, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki saya di Komunitas Ciliwung, saya langsung jatuh hati. Saya jatuh hati pada rimbunnya pohon dan gemerisik daun salak yang tertiup angin. Ambooi, rasanya saat itu saya langsung ingin bawa tikar dan berpiknik disana.

            Kata orang, Ciliwung itu ada peletnya, makanya sekali main di Ciliwung, di jamin pasti akan balik lagi. Mungkin itu yang terjadi kepada saya. Semenjak hari itu saya repot sekali bolak-balik ke Komunitas Ciliwung hanya sekedar untuk menikmati sore sambil berbincang hangat seputar isu-isu lingkungan hidup ditemani secangkir kopi yang disuguhkan gratis disana.
            Semakin  sering saya berkunjung, semakin saya tahu keadaan Ciliwung yang sebenarnya. Miris, sungguh miris. Di kota modern sekelas Jakarta, ternyata masih ada yang terbelakang. Ya, sungai Ciliwung tertinggal di belakang segala kemajuan Kota Jakarta. Akhirnya, berangkat dari rasa sedih dan miris karena begitu banyak orang yang rugi karena tidak mengenal sungai ini, saya dan beberapa teman membentuk tim dan membuat tempat bermain dan belajar di tepi Sungai Ciliwung yang kami beri nama “sekolah alam ciliwung”. Di sana kami mengajak anak-anak sekitar untuk bermain dan mengenal sungai Ciliwung dengan cara yang menyenangkan. Kami mengajari mereka dengan dongeng, dengan menceritakan sejarah sungai, membuat drama tentang asal-usul sungai.

Awalnya hanya 10 orang saja yang datang dan mau mengenal sungai Ciliwung, tapi kami tak putus asa. Setiap minggu ternyata semakin banyak anak-anak yang tertarik untuk ikut bergabung bersama kami hingga akhirnya murid sekolah alam Ciliwung mencapai 150 anak. Harapan kami, anak-anak ini nantinya akan menjadi generasi yang peduli, generasi yang mampu hidup bersinergi dengan alam. Memang yang kami lakukan hanyalah hal yang sangat kecil bagi Ciliwung kami tercinta. Namun, bukankah manusia pun hanya terbuat dari sebuah sel kecil yang tak kasat mata?
Ciliwung bagi saya bukan hanya sekedar guru yang memberi limpahan ilmu, Ciliwung juga sang dewi cinta. Ciliwung memberikan saya seorang lelaki sempurna yang kini menjadi suami saya. Saya bertemu dengannya dalam acara ulang tahun Jakarta yang diselenggarakan oleh Komunitas Ciliwung Condet. Perkenalan yang sederhana ditemani segelas bir pletok dan kue bugis khas betawi. Di tepi sungai Ciliwung yang mengerikan bagi banyak orang, saya menemukan cinta yang sejati. Pertemuan demi pertemuan selalu kami lakukan di tepi sungai ini, bukan hanya di condet, kami pun bertemu di Ciliwung Bojonggede, Ciliwung Depok, bahkan hingga Ciliwung Bogor. Kami melihat berbagai bentuk wajah dari Ciliwung, yang muram dan lesu serta telah renta di hilir, serta wajah yang ceria dengan deras suara air dihiasi semilir angin sepoi yang sejuk di hulu nya. Sungguh kontras dan amat berbeda, tapi kami menikmati keduanya.

6 bulan setelah pertemuan sederhana di tepi Ciliwung, saya dan lelaki yang diberikan Ciliwung untuk saya-pun menikah. Hari-hari pernikahan kami pun selalu diisi dengan cerita-cerita tentang sungai ini. Mungkin Ciliwung memang telah menjerat saya dengan pesonanya, bahkan setelah menikah saya justru semakin dekat dengan Ciliwung, karena rumah yang saya dan suami tempati kini berada di tepi sungai Ciliwung. Oh, tentu saja berada diluar garis sempadan sungai yang telah di tentukan.
Setelah menikah saya melihat lagi wajah Ciliwung yang lain, wajah penuh amarah saat musim hujan tiba. Walaupun rumah saya diluar garis sempadan sungai, tentu saya tetap mengalami banjir 5 tahunan. Banjir pertama yang datang hanya berselang 2 hari setelah pernikahan kami, Ciliwung dengan baik hati memberi kami hadiah berupa limpahan air yang datang berkunjung ke rumah kami. Sungguh saya tak pernah merasa keberatan ataupun kesal dengan sungai ini, saya menikmati setiap detik menanti air itu datang dan masuk ke dalam rumah, karena sungguh seandainya kalian tahu, banjir membawa banyak keberkahan. Senang sekali rasanya melihat warga saling tolong menolong membantu mengungsikan barang-barang. Mungkin kalian sesekali harus mencoba rasanya kebanjiran, memang letih dan lelah, namun banyak pelajaran yang amat berharga yang bisa kita ambil.

Episode berikutnya saya jalani bersama Ciliwung kala saya mengandung anak pertama saya. Sebegitu lekatnya pesona Ciliwung sampai saat hamil pun saya ngidam mandi dan berenang di sungai Ciliwung. Apa daya, walaupun rumah saya hanya sepelemparan batu dengan tepi Sungai Ciliwung, tentu saya tidak bisa mandi di sungai Ciliwung di Condet ini karena airnya sudah begitu keruh dan tercemar. Walaupun saya cinta dengan Ciliwung, saya pasti berpikir dua kali kalau untuk menceburkan diri saya di sungai Ciliwung belakang rumah saya. Saya bukan sungkan dengan Ciliwungnya, namun saya takut ketika saya main air disana, jempol kaki saya dimakan oleh ikan sapu-sapu. Akhirnya karena begitu inginnya saya main di Ciliwung, suami saya dengan baik hati bersedia mengantar saya ke sungai Ciliwung bagian hulu, yang terdekat yaitu di Bojonggede. 

Pagi-pagi sekali dengan membawa perut yang kian besar kami mantap sekali menumpang kereta commuterline. Sesampai disana saya harus menelan kekecewaan karena air sedang tinggi dan saya tidak diperkenankan untuk turun ke sungai karena bisa berbahaya. Saya dan suami pun harus menunggu air surut kembali sekitar 4 jam, saat menunggu sungguh tidak terasa membosankan karena kami menunggu di bawah rindangnya pepohonan lokal dan duduk di dalam saung sambil memandang jajaran bibit pohon dalam ratusan polybag. Oh ya, kalian harus tahu kalau Komunitas Ciliwung Bojonggede punya program nursery, khususnya dalam bidang pembibitan dan pemberdayaan pohon-pohon lokal. Tempatnya sangat asri dan rimbun, cocok sekali untuk mata-mata yang lelah memandang riuhnya perkotaan. Tak terasa sore pun datang menjelang, kami pulang dengan memikul lelah yang amat sangat, kaki saya mulai bengkak dan punggung pun mulai letih dibawa berjalan, tapi senyum tetap terkembang di wajah kami. Sungguh betapapun lelahnya, kami sangat menikmati waktu bercengkrama dengan sungai. Saya jadi berandai-andai, apa mungkin nanti anak saya masih bisa menikmati sejuknya sungai Ciliwung? Ah, sungguh indah bila saja sungai Ciliwung di belakang rumah saya juga masih dapat kami nikmati airnya.

Ciliwung tak henti memberi saya kejutan. Banjir kedua datang menyapa kala usia kandungan memasuki 8 bulan. Kata siapa banjir datangnya 5 tahun sekali, saya baru 2 tahun menikah dan sudah 2 kali kedatangan banjir. Tahun 2014 ini malah tak tanggung-tanggung, 7 kali banjir merendam rumah kami tercinta. Saya tetap menikmati datangnya air, namun perut buncit saya mulai menunjukkan keberatan. Kaki mulai sering terasa kram dan punggung pun tak lagi kuat diajak bekerja membersihkan sisa-sisa lumpur kala banjir mulai surut. Para tetangga sering meledek bahwa anak saya nanti akan jadi anak kali, akan cepat bisa berenang, dan anak yang tidak bisa diam seperti aliran sungai Ciliwung yang tak pernah diam. Bahkan beberapa mulai memberi nama-nama untuk anak saya, kalau perempuan disuruh beri nama Siti Banjirwati, kan kalau laki-laki dinamai Muhammad Ciliwung. Saya hanya tersenyum menanggapi. syukurlah bayi saya tetap sehat dan aman di dalam perut saya hingga banjir pun berlalu.

Bayi saya lahir setelah semua banjir telah usai, di tanggal 6 maret 2014. Kami menamainya Shabia Nasheera yang berarti anak gadis yang senang menolong. Harapan kami, gadis kami ini kelak akan jadi gadis yang senang menolong seperti namanya. Para tetangga yang membesuk datang dengan ledekan kalau anak saya tentu harus senang menolong mereka kala banjir datang kembali. Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum mengamini.
Kini isu-isu penggusuran mulai membayangi para tetangga di lingkungan kami. Kami hanya berharap kalau penggusuran dengan membawa nama proyek emas normalisasi sungai tidak hanya akan berakhir dengan kasus korupsi dan penggelembungan dana. Kami tak henti berharap sungai Ciliwung akan kembali menjadi primadona, seperti masa keemasannya dulu. kami tak henti berandai-andai agar kami bisa kembali menikmati sungai Ciliwung yang bersih, dan asri. Siapa tahu kelak Ciliwung akan menjadi destinasi wisata sungai? Siapa tahu kelak Ciliwung akan berubah menjadi Venice nya Indonesia.

            Ciliwung bagi saya bukan hanya sekedar air yang mengalir dari hulu ke hilirnya, namun Ciliwung adalah guru yang mengajarkan tentang kehidupan, tentang sejarah, dan tentang masa depan. Ciliwung bukan barang warisan dari generasi kita untuk generasi selanjutnya, Ciliwung merupakan titipan generasi selanjutnya untuk kita rawat, kita jaga, dan kita cintai. Betapapun sakitnya Ciliwung, ia masih saja memberi kasih pada kita dengan airnya. Ia masih saja memberi ilmu dengan tulus dengan alirannya.
Mengalir bersama Ciliwung bukan hanya sekedar mengalir, tapi belajar, dan hidup bersamanya, bersama Ciliwung kita...
Nur Faizah - Sekolah Alam Ciliwung )



Senin, 18 Agustus 2014

69 Tahun Indonesia Merdeka, SDA Sungai Semakin Dirusak

Pengibaran Sang Saka Merah Putih di Sungai Ciliwung Kota Kembang Depok
17 Agustus 2014
dihadiri oleh Masyarakat, PEMDA Kota Depok dan Komunitas Ciliwung


Pers Release Komunitas Ciliwung
Kegiatan Jelajah Kemerdekaan Ciliwung 2014
dalam Rangka Memeringati Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia


Minggu, 17 Agustus 2014

Jiwa Jiwa Merdeka Generasi Pewaris Ciliiwung
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-69
oleh bocah bocah Pustaka Air Ciliwung bersama #ReshaDongeng 17 Agustus 2014.

Pinggir Ciliwung Kel. Ratu Jaya Kec. Cipayung Kota Depok.
Komunitas Ciliwung Depok.
Sejumlah pegiat sungai yang tergabung dalam Komunitas Ciliwung memeringati Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan upacara bendera di tengah aliran Sungai Ciliwung, Minggu (17/8). Bertempat di 2 titik peringatan 17 Agustus, titik pertama dekat jembatan Kota Kembang, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, sejumlah 100 orang dari berbagai kalangan mengikuti upacara dengan khidmat, lengkap dengan pengibaran bendera merah putih dan pembacaan teks proklamasi.  Lokasi tersebut juga menjadi titik awal susur Ciliwung dam titik kedua peringatan kemerdekaan sederhana dilakukan oleh Kak Resha Dongeng bersama anak anak Taman Baca Pustaka Air di Kelurahan Ratu Jaya Kecamatan Cipayung Kota Depok.
Azhar Malik, ketua pelaksana kegiatan Jelajah Kemerdekaraan Ciliwung 2014, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur terhadap kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia melalui jasa para pahlawan.  Momentum Hari Kemerdekaan sekaligus digunakan untuk mengartikulasikan kemerdekaraan bagi ekosistem sungai.  Komunitas Ciliwung Depok hari itu memfasilitasi pelaksanaan peringatan upacara bendera yang dilanjutkan dengan susur  Ciliwung dengan menggunakan  7 perahu karet.  Susur dengan finis di daerah Pondok Cina dilakukan untuk memantau perkembangan sempadan Ciliwung.  Hasil pengamatan akan disampaikan kepada dinas dan lembaga terkait di Kota Depok.
Kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat langsung apa yang terjadi di Ciliwung melalui susur sungai ini ” Kata Azhar, Siswa Pecinta Alam  PLASMA SMAN 4 Kota Depok yang memimpin kegiatan hari itu.
Dihubungi terpisah, Sudirman Asun, aktivis dan koordinator Ciliwung Institute, tak henti menyerukan kepada masyarakat luas untuk peduli terhadap kelestarian Ciliwung.  “Ciliwung itu wajah Ibu Kota Republik Indonesia.  Jika Ciliwung buruk itu menunjukan pengelolaan Negara yang buruk pula” kata dia.  Asun menambahkan bahwa meskipun bangsa Indonesia telah merdeka, tetapi tantangan mengelola sumberdaya alam masih sangat besar, termasuk sungaiSungai Ciliwung, lanjut dia, dalam kondisi kritis dan mengarah pada hilangnya biodiversitas di dalamnya. Penelitian LIPI tahun 2011 menunjukan bahwa 92% spesies ikan asli Ciliwung telah punah.  Ciliwung di Jakarta bahkan mengalami penyempitan akibat penyerobotan sempadan sungai untuk permukiman dan pendangkalan dari sedimentasi baik lumpur maupun sampah.
Pendapat senada di lontarkan pegiat Ciliwung Depok, Taufiq  D. S. , yang juga koordinator Komunitas Ciliwung Depok.  Berdasarkan pengamatan yang ia lakukan secara rutin dengan program piket Ciliwung menggunakan perahu karet, Ia yakin bahwa pemerintah selama ini absen dalam pengelolaan sungai.  Sempadan Ciliwung, khususnya di Kota Depok menghadapi ancaman penyerobotan dari pembangunan perumahan baik komplek maupun individu. 
“Ciliwung mengalami kehancuran, hak sempadannya di cabut.  Tapi Pemerintah tutup mata terhadap pelanggaran yang terjadi”. Kata Taufiq.  Apa yang disampaikan Taufiq bukan tanpa alasan.  Berulang kali pihaknya menyampaikan sejumlah hasil pengamatan lapangan kepada pemerintah Kota Depok.  Namun konversi sempadan masih terus terjadi.  Pelanggaran sempadan sungai nyata-nyata terjadi di depan mata. Namun sampai saat ini tidak ada sanksi yang diberikan.
Lihat saja hasil pengamatan Komunitas Ciliwung tahun 2013 yang menunjukan catatan terhadap pelanggaran terhadap sempadan Ciliwung.  Mulai dari Bojong Gede, Kabupaten Bogor sampai dengan Lenteng Agung, Jakarta, tercatat 215 titik gunungan sampah, 94 titik bangunan yang melanggar sempadan, dan 127 titik sumber limbah cair.
Belum lagi sejumlah catatan lainnya dari berbagai pihak.  Fakta kerusakan Sungai Ciliwung telah didokumentasikan dalam laporan jurnalistik Kompas (2009) dan laporan ekspedisi Badan Informasi Geospasial (2013).  Kedua laporan tersebut menggambarkan kondisi Sungai Ciliwung yang semakin memprihatinkan mulai dari daerah tangkapan air di Puncak sampai dengan muara di Jakarta.  Kondisi tersebut disebabkan oleh perubahan tutupan lahan di wilayah tangkapan air, sedimentasi akibat erosi, pencemaran, sampah, dan hilangnya fungsi vegetasi riparian di sempadan.  Serangkaian masalah tersebut menyebabkan daya tampung air sungai menurun.  Demikian pula dengan kualitas air Sungai Ciliwung yang semakin buruk.  Kementerian Lingkungan Hidup (2011) menyatakan bahwa  sebagian besar parameter Kriteria Mutu Air (KMA) Sungai Ciliwung tidak memenuhi kelas air yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.  Sementara itu, Hadiaty (2011) melaporkan menurunnya kekayaan spesies ikan asli akibat degradasi kualitas habitat Sungai Ciliwung.  Kondisi sungai yang semakin buruk dari waktu ke waktu membuat DAS Ciliwung ditetapkan sebagai salah satu DAS kritis di Indonesia. 
Rahmat Iskandar, warga Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok yang turut dalam kegiatan pengarungan mengaku prihatin sekaligus optimis terhadap kondisi Ciliwung di Kota Depok.  “ Meskipun terlihat banyak pelanggaran di sempadan Ciliwung, tapi masih ada tumbuhan yang tersisa cukup luas di sana-sini.  Masih ada harapan. Tumbuh-tumbuhan yang tersisa itu harus diselamatkan”.  Kata Rahmat.
Ciliwung adalah satu dari ribuan sungai yang mengalir di daratan Indonesia.  Aset alam yang menjadi bagian dari proses hidrologi tersebut perlu mendapat perhatian dan dikelola dengan benar.  Memelihara dan memperbaiki sungai tampaknya perlu mengadopsi semangat juang pahlawan Indonesia dalam merebut kemerdekaaan.  Persatuan menjadi kunci keberhasilan pencapaian kemerdekaan.  Demikian pula untuk urusan sungai.  “Kunci kesuksesan pengelolaan sungai harus dilakukan bareng-bareng”. Kata Taufiq menutup acara.
            Musuh utama Ciliwung saat ini adalah konversi sempadan untuk perumahan dan bangunan lainnya.  Hal tersebut semakin memicu masuknya limbah dari rumah tangga, industri, dan sampah.  Pada kesempatan momentum HUT ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia, Komunitas Ciliwung Depok bersama Komunitas Ciliwung lainnya menyerukan agar:
(1)   Pemerintah pusat bersama dengan pemerintah daerah segera menetapkan Garis Sempadan Sungai yang menjadi amanat PP. 38 tahun 2011Sekedar mengingatkan Pemerintah, bahwa amanat tersebut harus dijalankan dan selesai pada tahun 2016 untuk seluruh sungai di Indonesia.
(2)   Stop mengeluarkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk seluruh bangunan yang akan didirikan di sempadan sungai.  Jika masih terdapat pelanggaran administrasi tersebut, maka dapat diadukan sebagai dugaan kasus korupsi.
(3)   Mengajak masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah ke Ciliwung dan mendukung inisiatif pemerintah daerah dan para pihak dalam penerapan pengelolaan limbah rumah tangga secara komunal.
(4)   Pegiat sungai untuk terus aktif mengajak sebanyak-banyaknya masyarakat untuk meramaikan dengan berbagai kegiatan positif di Ciliwung.
 
Sekalipun NKRI telah merdeka tapi kemerdekaan dari sisi lain tetap jadi dambaan masyarakat, salah satunya kemerdekaan sungai Ciliwung dari ancaman kerusakan dan sampah.
Upacara pengibaran bendera merah-putih dalam rangka peringatan HUT ke-69 RI yang dilakukan pegiat Ciliwung bersama masyarakat luas dilaksanakan di Cadas Ciliwung Kota Kembang, Depok paling tidak merefleksikan upaya merubah pola pikir masyarakat bahwa Ciliwung bukan tempat pembuangan sampah dan limbah serta tidak jadi tempat cari uang investor perumahan dan pabrik serta perorangan perusak bantaran atau sempadannya. 
Pada bagian lain, bertempat di Saung Pustaka Air, Ciliwung Ratujaya diadakan pula upacara bendera diikuti oleh anak-anak warga sekitar.
Sebagai Pembina Upacara di bantaran Ciliwung Kota Kembang, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Kania Prs; Pemimpin Upacara, Syarif Hidayatullah; Pengibar Bendera, Pecinta Alam SMUN 3 Depok; Pembaca Naskah-naskah, siswa SMK Nusantara, pengawal perahu Pengibar Bendera, tim Mapala UI; MC, Abang dan Mpok Depok/ tdes
(Komunitas Ciliwung Depok )
Referensi
Badan Informasi Geospasial. 2013.  Ekspedisi Geografi Indonesia; menentang banjir.  Badan Informasi Geografi; Bogor: 191 hlm.
Ciliwung Institute. 2013.  Laporan kegiatan jelajah keanekaragaman hayati Ciliwung 2013.  Komunitas Ciliwung; Jakarta: iii+26 hlm.
Hadiaty, R. K. 2011.  Diversitas dan hilangnya jenis-jenis ikan di Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane.  Berita Biologi 10(4): 491--504.
Kompas. 2009. Ekspedisi Ciliwung. Laporan Jurnalistik Kompas Mata Air, Air Mata. PT. Gramedia, Jakarta: xxviii+280 hlm.
Kementerian Lingkungan Hidup. 2011. Pemantauan kualitas air daerah aliran Sungai Ciliwung. Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan, Jakarta: vi+64 hlm.


Catatan Untuk Editor
  Ciliwung merupakan sungai utama yang mengalir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.  Sungai tersebut mengalir sejauh 117 km melewati wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta.  Di Provinsi Jawa Barat, Sungai Ciliwung mengalir melewati Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok. Aliran Sungai Ciliwung bermuara di Teluk Jakarta. Melalui Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008, Sungai Ciliwung ditetapkan sebagai salah satu dari DAS strategis lintas provinsi di Indonesia.    

 Untuk wawancara dan foto dapat menghubungi
·         Azhar Malik, ketua pelaksana kegiatan  Jelajah Kemerdekaan Ciliwung 2014,  no. Hp. 0821 1444 9564
·         Taufiq D. S. koordinator Komunitas Ciliwung Depok, no. Hp. 0812 9967 861
·         Sudirman Asun, koordinator Ciliwung Institute, no. Hp. 0812 1212 5108
·         Sekretariat : Perumahan Wartawan Purimulya Jl. Sensor No. 3 - Kalimulya, Depok 16471.  Email: jelajahciliwung@yahoo.com – Telp. 77822705

Sabtu, 26 Juli 2014

Hari Sungai Nasional 2014, Menunggu “Political Will” Pemerintah Pusat Dalam Penyelamatan Sungai Indonesia

Peringatan Hari Sungai Nasional 27 Juli 2014 bersama teman2 KWCC (Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane) , acara ngabuburit dan mancing di Anak Sungai Cisarua Cianteun DAS #Cisadane Leuwiliang Kabupaten Bogor. 
"harapan kepada pemerintahan yang baru lebih serius dalam penegakan hukum dan pengelolaan sungai sungai di Indonesia dengan konsep SDA yang berkelanjutan."

KWCC
Bogor 26 Juli 2014


Bogor, 26 Juli 2014. Pemerintah telah menetapkan tanggal 27 Juli sebagai Hari Sungai Nasional. Ciliwung Institute dan warga menunggu AKSI NYATA pemerintah.

Sehari sebelum hari sungai nasional Para Penggiat Pecinta Sungai dan Warga Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane memperingati hari sungai Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Juli 2014.
Para pengiat dan warga daerah aliran sungai (DAS) menuggu political will pemerintah dalam penyelamatan sungai di Indonesia, warga dan pengiat  sungai berharap pemerintahan terpilih lebih serius menangani permasalahan yang terjadi di sungai-sungai Indonesia, karena sungai-sungai di Indonesia umunya telah mengalami ketidakadilan, pembiaran serta abainya tugas pengelolaan  sungai oleh pemerintah Indonesia yang berdampak rusaknya ekologi sungai hingga kritis tercemar berat limbah industri, tambang maupun yang tercemar oleh limbah domestik. Salah satu contohnya sungai sub Das Cisadane “Cikaniki” sejak tahun 2010 sampai saat ini air sungai ini warnanya kadang coklat kental kadang hitam pekat.

Hari Yanto salah satu pendiri Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) dan Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane (KWCC) yang kesehariannya tinggal di Daerah Aliran Sungai Ciliwung Cisadane mengungkapkan “kondisi sungai Ciliwung dan Cisadane semakin tahun semakin parah kondisinya dan memprihatinkan, seperti halnya sungai Cikaniki anak sungai Cisadane pada tahun 2008 sungai ini masih jernih serta ikannya pun masih banyak, namun sejak tahun 2010 sungai ini tercemar limbah dan ikan-ikan di Cikaniki hampir punah yang di akibatkan oleh para penambang tanpa ijin (PETI) di hulu sungai Cikaniki, yang membuang limbahnya secara langsung ke sungai . Tidak dipungkiri bahwasannya para penambang tanpa ijin di hulu Cikaniki adalah masyarakat yang menggantungkan sumber kehidupannya dari hasil tambang emas yang eksploitasi oleh PT Antam .tbk perusahaan BUMN plat merah negara ini. “Namun kalau permasalah yang terjadi di Cikaniki, tidak bisa lantas yang di salahkan hanya masyarakat yang melakukan PETI, harusnya pemerintah juga mensosialisasikan terkait apa dampak yang di sebabkan oleh para PETI sehingga mereka tidak mencemari sungai yang masih di manfaatkan oleh warga yang di hilr sebagai kebutuhan air sehari hari dan irigasi sawah. atau mungkin solusinya  pemerintah memfasilitasi PETI untuk membagun IPAL komunal yang menampung limbah, sehingga tidak mencemari sungai”, tambah Hari Yanto.

Sudirman Asun dari Ciliwung Institute menambahkan bukan hanya sungai Cikaniki yang tercemar, sungai Ciliwung pun tercemar oleh limbah tahu dan sampah domestik. Kondisi bantarannya pun  telah banyak diuruk para pengembang perumahan mulai dari Kabupaten Bogor hingga Kota Depok. Hutan bambu di bantaran Ciliwung juga terancam oleh para pengembang yang berniat membangun perumahan di daerah sempadan sungai dengan pertimbangan harga lahan yang murah dan pemandangan bagus ke aliran sungai (penawaran riverside/riverview).  Oleh sebab itu kami warga dan para pengiat pencinta sungai menunggu aksi nyata Presiden dan Wakil Presiden terpilih “Jokowi-Jusup Kalla” merealisasikan program-programnya dalam hal penyelamatan lingkungan, khusunya sungai jika sudah duduk di kursi Kepresidenan Republik Indonesia. Asun mengukapkan “Pada Juni 2013 lalu,  bersama dengan Komunitas Ciliwung, kami mengadakan penelitian Jelajah Taman Keanekaragaman Hayati Ciliwung. Kondisi Ciliwung sepanjang bantaran dipenuhi titik-titik gunung sampah. Tercatat 215 titik pembuangan sampah mulai dari Bojong Gede di Bogor hingga Simatupang, Jakarta. Penelitian tersebut juga mencatat 88 pelanggaran oleh pembangunan pemukiman di bantaran. Enam titik lainnya masih dalam proses pengurukan bantaran untuk kompleks perumahan baru. Tercatat pula sumber limbah rumah tangga dan industri sebanyak  127 titik.”

Ajie salah satu warga Daerah Aliran Sungai Cisadane, yang ikut serta menyambut Hari Sungai Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Juli 2014 mengingatkan bahwasannya “pemerintah jangan hanya bisa menetapkan hari Sungai saja, namun harus juga ikut serta merayakan hari tentang sungai ini serta mensosialisakan ke warga seperti kami di seluruh pelosok atau desa. Sehingga kejadianya tidak seperti kami yang hanya tahu tentang hari sungai dari para pengiat lingkungan” tuturnya.

Kontak Wawancara:
Hari Yanto, salah satu Pendiri Komunitas wilayah Ciliwung Cisadane.
Email: hari_kikuk_kikuk@yahoo.com Telpon: 08561235298
Sudirman Asun, Ketua Ciliwung Institute.
 Email: sudirmanasun@yahoo.com Telepon: 02171140277 atau 081212125108
Untuk permintaan foto, silakan menhubungi:
Sutisna Rey, Email sutisnarey@yahoo.com Telpon 085778431841

CATATAN EDITOR:
  • Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane merupakan Komunitas yang memiliki konsen dan keperdulian warga terhadap Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Sungai Ciliwung Cisadane Informasi terkait komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane bisa di lihat di http://Tjiliwoeng.blogspot.com dan facebook Cisadane institute.
  • Ciliwung Institute (CI) merupakan forum kerja yang digagas untuk mewadahi kegiatan komunitas yang bergerak dalam upaya penyelamatan Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Lingkup kegiatannya mulai dari Puncak Kab. Bogor, Kota Bogor, Bojonggede Kab.Bogor, Depok hingga Jakarta. Forum yang dibangun dari beragam isu ini mencoba mengangkat potensi Ciliwung yang dilihat dan dilakukan dari berbagai sudut pandang. Keberagaman ini merupakan kekuatan Ciliwung Institute untuk mengemas kampanye penyelamatan Ciliwung yang disuarakan menjadi sederhana dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Informasi lebih jauh tentang CI bisa diakses di http://ciliwunginstitute.blogspot.com/
  • Penetapan hari Sungai Nasional di tuangkan dalam Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2011 tentang Sungai dan di tetapkan pada tanggal 27 juli 2011 sebagaimana juga penetapan PP No 38 ini sekaligus sebagai penetapan hari Sungai Nasional oleh Persiden Republik Indonesia. 
  • Pemantauan Kualitas  Air 33 Propinsi Tahun 2011 oleh Pusarpedal -KLH
Dari 51 sungai yang dipantau di Indonesia 62, 74% masuk kategori tercemar Berat, 31, 37% tercemar Sedang-berat, 3,92% tercemar.

 Padahal Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Dari 5,5 ribu sungai utama panjang totalnya mencapai 94.573 km dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 1.512.466 km2.